Sofyan Tan: Sampah Bukan Musuh, Jika Dikelola Bisa Jadi Sumber Ekonomi Masyarakat

Bagikan Artikel

MEDAN, Bonarinews.com — Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan menyampaikan, sampah tidak seharusnya selalu dipandang sebagai masalah. Jika dikelola dengan baik, sampah justru dapat menjadi sumber ekonomi sekaligus solusi bagi persoalan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Sofyan Tan saat membuka kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas penggunaan riset dan inovasi untuk masyarakat yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia di Le Polonia Hotel Medan, Sabtu (14/3/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan pelatihan pengelolaan sampah (waste management) bagi masyarakat kota Medan.

Dalam sambutannya, Sofyan Tan mengatakan persoalan lingkungan dan pengelolaan sampah telah lama menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, bahkan jauh sebelum dirinya menjadi anggota DPR.

Ia mengungkapkan selama lebih dari dua dekade aktif dalam berbagai kegiatan konservasi lingkungan. “Saya sudah sekitar 27 tahun bekerja di bidang konservasi lingkungan, melalui Yayasan Ekosistem Lestari. Karena saya percaya, kalau hutannya rusak, masa depan kita juga ikut rusak,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi lingkungan di wilayah Sumatera pernah mengalami tekanan yang cukup besar, termasuk menurunnya populasi Orangutan akibat kerusakan hutan.

Situasi tersebut mendorongnya mencari cara agar masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan tetap memiliki penghasilan tanpa harus merusak alam.

Sampah sebagai Solusi Ekonomi

Sejak akhir 1990-an, Sofyan Tan mulai mengembangkan program pengelolaan sampah organik yang dikaitkan dengan peningkatan pendapatan masyarakat.

Ia mendorong masyarakat memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan untuk sektor pertanian.

Pendekatan tersebut dinilai mampu mengurangi volume sampah sekaligus membantu petani meningkatkan produktivitas lahan.

“Prinsipnya sederhana. Sampah itu sebenarnya barang yang belum dimanfaatkan dengan baik. Kalau dimanfaatkan, nilainya bisa tinggi,” katanya.

Melalui pendekatan ini, masyarakat diharapkan tidak lagi memandang sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Tiga Cara Mengelola Sampah

Dalam kesempatan itu, Sofyan Tan juga mengingatkan pentingnya kebiasaan sederhana dalam pengelolaan sampah rumah tangga.

Ia menyebut setidaknya ada tiga prinsip utama yang perlu diterapkan masyarakat, yakni reduce, reuse, dan recycle.

Reduce berarti mengurangi produksi sampah sejak awal, misalnya dengan tidak mengambil makanan secara berlebihan atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan, seperti botol atau wadah plastik.

Sementara recycle berarti mengolah kembali sampah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi.

“Kalau kita bisa mengolah sampah dengan baik, maka yang tadinya tidak bernilai bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat,” imbuhnya.

Ia juga menekankan pentingnya memilah sampah sejak dari rumah, minimal dalam tiga kategori, yaitu sampah organik (basah), sampah anorganik (kering), serta sampah elektronik (berbahaya)

Dari Sampah ke Pertanian Berkelanjutan

Sofyan Tan juga berbagi pengalaman saat membantu petani kopi di Aceh yang sebelumnya bergantung pada tengkulak.

Saat itu banyak petani kesulitan membeli pupuk dan bibit sehingga harus meminjam uang kepada tengkulak dengan berbagai syarat yang memberatkan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ia menggandeng para ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB) guna melatih petani memanfaatkan pupuk organik dari kotoran sapi dan kambing.

Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan kualitas tanah sekaligus produksi kopi petani.

Tidak hanya itu, hasil kopi mereka kemudian dapat dipasarkan langsung ke pembeli luar negeri tanpa melalui tengkulak.

“Harga kopi mereka bisa lebih tinggi sekitar Rp5.000 dari harga pasar. Tanahnya juga lebih subur, panennya lebih baik,” kata Sofyan Tan.

Saat ini lebih dari 400 petani telah terlibat dalam program pertanian organik tersebut.

Sampah Jadi Sumber Kehidupan

Bagi Sofyan Tan, pengelolaan sampah bukan hanya soal kebersihan lingkungan, tetapi juga tentang menciptakan sistem ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Ia menilai program pelatihan yang digelar BRIN bersama DPR RI tersebut menjadi langkah penting dalam memperkenalkan inovasi riset kepada masyarakat.

Dengan pengetahuan yang tepat, masyarakat dapat mengubah sampah menjadi sumber penghasilan sekaligus menjaga lingkungan.

“Sampah itu bukan masalah. Sampah adalah barang yang belum dimanfaatkan dengan baik. Kalau dimanfaatkan dengan benar, nilainya bisa menjadi sangat besar,” sebutnya.

Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa perubahan besar dalam menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan kecil—terutama dari rumah, dari dapur, dan dari cara memandang sampah sebagai sumber daya yang bernilai. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *