RANTAUPRAPAT, Bonarinews.com – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, mengajak generasi muda menjadikan pendidikan sebagai kunci utama membangun kemandirian bangsa. Pesan tersebut disampaikannya saat menggelar Dialog Kebangsaan bertema “Indonesia Kaya, Kenapa Kita Belum Sejahtera?” di sejumlah sekolah di Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, Kamis (5/3/2026).
Di hadapan ratusan pelajar, Sofyan Tan mengungkapkan sebuah ironi yang masih dihadapi Indonesia. Meski dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya alam dan memiliki tanah subur, Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor berbagai bahan pangan.
Kunjungan tersebut diawali di SMA Swasta Panglima Polem di Jalan Cut Nyak Dhien, kemudian dilanjutkan ke SMA Swasta Buddhis Jayanti di Jalan Gatot Subroto, dan ditutup di SMA Swasta Methodist 2 Rantauprapat di Jalan Bilah.
Dalam dialog yang berlangsung hangat, Sofyan Tan memaparkan data perdagangan pangan Indonesia yang menunjukkan ketimpangan antara impor dan ekspor.
Berdasarkan data ekspor dan impor dari Badan Pusat Statistik Januari 2026, nilai impor sayuran ke Indonesia mencapai sekitar 60 juta USD atau setara 66 juta kilogram. Sementara itu, ekspor sayuran Indonesia ke luar negeri hanya sekitar 5 juta USD atau 5,8 juta kilogram.
Hal serupa juga terjadi pada komoditas buah-buahan. Nilai impor buah mencapai 190 juta USD atau sekitar 102 juta kilogram, sedangkan ekspor buah Indonesia hanya 84 juta USD atau sekitar 101 juta kilogram.
Menurut Sofyan Tan, ketergantungan impor tidak hanya terjadi pada sayur dan buah. Indonesia juga masih mengimpor berbagai bahan pangan lain seperti daging sapi, susu, beras, hingga gandum dari sejumlah negara seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Thailand, dan Vietnam.
Padahal, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara agraris. Luas lahan pertanian Indonesia tercatat sebagai salah satu yang terbesar di dunia, tanahnya subur, dan memungkinkan kegiatan pertanian sepanjang tahun.
“Lalu kenapa ini terjadi? Karena kita belum menjadikan pendidikan sebagai prioritas,” ujar Sofyan Tan di hadapan para siswa.
Ia menjelaskan, negara-negara maju yang saat ini menjadi eksportir pangan dunia umumnya memiliki teknologi pertanian yang sangat maju. Teknologi tersebut lahir dari riset dan inovasi yang dilakukan oleh sumber daya manusia yang terdidik serta didukung oleh perguruan tinggi yang kuat.
Menurutnya, pendidikan tinggi yang berkualitas dan mudah diakses masyarakat menjadi fondasi penting untuk menciptakan inovasi di bidang pertanian, perkebunan, hingga peternakan.
Melalui riset dan teknologi, produktivitas pertanian dapat meningkat baik dari segi kualitas maupun kuantitas hasil panen.
Karena itu, Sofyan Tan mendorong para pelajar untuk tidak berhenti hanya sampai jenjang SMA atau SMK, tetapi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan aktif melakukan riset.
Ia bahkan mendorong generasi muda Indonesia untuk berani melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi.
“Kuliahlah setinggi mungkin, bahkan sampai S3. Lakukan riset sebanyak-banyaknya agar lahir teknologi yang bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen kita,” ujarnya.
Menurut Sofyan Tan, jika pendidikan dan riset terus berkembang, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tetapi juga berpotensi menjadi negara pengekspor pangan besar di dunia.
Ia berharap generasi muda dapat mengambil peran besar dalam perubahan tersebut dengan semangat belajar, berinovasi, dan berkontribusi bagi masa depan bangsa.
“Anak-anak muda harus berani bermimpi besar. Dari pendidikan dan riset, kita bisa mengubah masa depan Indonesia,” katanya. (Redaksi)
