Saat Sofyan Tan Mengingatkan: Kemiskinan Tak Punya Suku

Bagikan Artikel

Medan, BonariNews.com — Di sebuah halaman sekolah di Medan, antrean itu memanjang sejak pagi. Warga Tionghoa—muda, tua, hingga yang punggungnya sudah sedikit membungkuk—berdiri menunggu giliran menerima paket Imlek. Di antara mereka, Taibeng tampak mencolok bukan karena pakaian, melainkan garis-garis gelap di kulitnya. Bekas matahari yang menahun, bukan dari liburan, tapi dari mengayuh sepeda tua menawarkan jasa kusuk keliling.

Pemandangan seperti ini, bagi sebagian orang, mungkin mengguncang stereotip lama: bahwa warga Tionghoa identik dengan toko, ruko, dan kemampuan dagang. Di hadapan 1.600 paket sembako yang dibagikan Lions Club Distrik 307-A2 itu, bayangan tentang kemapanan etnis tertentu terasa jauh lebih kompleks daripada cerita-cerita populernya.

Sofyan Tan, dokter dan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, berdiri di panggung kecil sambil menatap barisan penerima bantuan. Ia seperti hendak mengusir satu mitos yang terlalu lama dipercayai. “Kemiskinan tidak mengenal suku dan warna kulit,” ujarnya. Nada suaranya datar, tetapi kalimat itu menggema seperti kritik yang lama tertahan.

Menurutnya, banyak keluarga Tionghoa yang hidup miskin turun-temurun, melanjutkan nasib yang sama dari orang tua, lalu diwariskan lagi ke anak-anak mereka. Bagi Sofyan Tan, jalan keluar yang paling masuk akal hanya satu: pendidikan yang menembus sampai perguruan tinggi. Di situlah, katanya, pintu nasib bisa berputar.

Di hari kedua baksos itu, paket-paket sembako dibawa ke Sekolah Bodhicitta, Yayasan Timur Lestari, hingga Kota Bangun di Medan Deli. Beras, minyak, mi telur, gula—kecil jika dilihat per bungkus, tetapi besar artinya bagi yang sedang menggantungkan hidup pada apa yang bisa dibawa pulang hari itu.

Sofyan juga sempat menyinggung tahun baru Imlek, menyebut shio ular kayu yang baru berlalu sebagai tahun bencana dan ekonomi seret. Ia berharap shio kuda api membawa laju yang lebih cepat. Lalu, dengan gaya bicara khasnya, ia menegur tradisi gelap yang masih bercokol di sebagian warga: judi. “Kalau mau menang, sekolah. Bukan berjudi. Dalam judi, pemenangnya tetap bandar,” katanya sambil tersenyum tipis—sebuah humor getir yang hanya lucu bagi yang mengerti.

Di sekitar panggung, para pengurus Lions Club menyapa warga yang datang, memastikan penyaluran berjalan rapi. Namun lebih dari sekadar bantuan, hari itu seperti menghadirkan pengingat yang lebih tajam: di balik lampion merah dan pernak-pernik Imlek, ada wajah-wajah yang selama ini tak dianggap bagian dari cerita besar sebuah komunitas.

Dan di antara mereka, suara Sofyan Tan menggemakan satu kebenaran sederhana—kemiskinan, memang, tak pernah menanyakan asal-usul. (Lindung Silaban)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *