Di tengah riuhnya dunia yang semakin modern dan serba digital, suara-suara mereka yang lemah kerap tenggelam di balik gegap gempita kemajuan. Namun di antara hiruk-pikuk itu, ada sosok yang tetap setia berdiri di garis depan memperjuangkan hak-hak mereka yang sering terabaikan — perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas.
Sosok itu adalah Rosmalinda, seorang pengajar sekaligus penggiat Hak Asasi Manusia (HAM) yang telah mendedikasikan lebih dari dua dekade hidupnya untuk menyalakan lentera keadilan di tengah gelapnya pelanggaran hak manusia.
Sejak tahun 1998, Rosmalinda telah aktif mengadvokasi berbagai kasus yang menimpa kelompok marginal. Ia menyadari bahwa pelanggaran HAM tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik atau perang, tetapi juga dalam bentuk diskriminasi, ketidaksetaraan, dan ketidakpedulian yang berlangsung setiap hari. Bagi Rosmalinda, ketidakadilan terhadap satu orang saja sudah cukup untuk mengguncang nurani kemanusiaan.
“HAM itu bukan sekadar konsep di atas kertas, tetapi napas kehidupan manusia,” begitu ia sering mengingatkan para mahasiswanya. Ia percaya bahwa menghormati hak asasi berarti menghargai keberadaan manusia itu sendiri — siapa pun dia, apa pun kondisinya.
Dalam pandangannya, perempuan, anak, dan penyandang disabilitas adalah kelompok yang paling rentan mengalami pelanggaran hak, baik dalam ruang publik maupun domestik. Banyak di antara mereka tidak tahu ke mana harus melapor ketika mengalami kekerasan atau diskriminasi, sebagian lainnya takut, malu, atau merasa tidak berdaya. Situasi inilah yang menggerakkan Rosmalinda untuk terus berjuang membangun sistem yang lebih manusiawi.
Melalui kegiatan edukasi, penelitian, dan pendampingan, Rosmalinda berupaya membangun kesadaran bahwa perlindungan HAM bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga tanggung jawab moral setiap warga. Ia kerap turun langsung memberikan pelatihan kepada masyarakat, berbicara di forum-forum pendidikan, hingga mengadvokasi korban kekerasan bersama berbagai lembaga hukum dan sosial.
Namun perjuangannya tak berhenti di sana. Menyadari tantangan baru di era digital, Rosmalinda kini mengembangkan sebuah aplikasi pelaporan HAM berbasis teknologi untuk memudahkan kelompok marginal melapor ketika hak mereka dilanggar. Menurutnya, inovasi digital dapat menjadi jembatan bagi mereka yang sulit bersuara, sekaligus alat untuk memastikan keadilan tidak lagi bergantung pada keberuntungan atau koneksi sosial.
“Pelanggaran HAM hari ini bukan hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga di dunia maya,” ujarnya. “Anak-anak dibully secara daring, perempuan dilecehkan di media sosial, penyandang disabilitas diabaikan hak aksesnya. Semua itu adalah bentuk baru ketidakadilan yang harus kita lawan bersama.”
Di balik ketegasannya, Rosmalinda adalah sosok yang lembut dan penuh empati. Ia meyakini bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk berbuat baik — hanya saja, sebagian dari kita belum memahami bagaimana melakukannya. Karena itu, ia selalu berusaha menginspirasi dengan tindakan nyata, bukan hanya kata-kata.
Bagi Rosmalinda, memperjuangkan HAM bukan pekerjaan sesaat, melainkan panggilan hidup. “Saya tidak ingin hanya menjadi saksi atas ketidakadilan,” katanya suatu kali, “saya ingin menjadi bagian dari perubahan kecil yang membawa arti bagi mereka yang terpinggirkan.”
Dunia mungkin tidak akan berubah dalam semalam. Tetapi selama masih ada orang-orang seperti Rosmalinda — yang berani peduli, berani melawan ketidakadilan, dan berani menyalakan lilin di tengah gelapnya dunia — maka harapan akan kemanusiaan itu tidak akan pernah padam. (Redaksi)
