Tangerang Selatan, BonariNews.com – Riset terbaru yang dipaparkan para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional mengungkap, aktivitas penambangan emas skala kecil (PESK) masih menjadi sumber utama emisi merkuri di Indonesia. Temuan ini disampaikan dalam kegiatan diseminasi bertema “Melindungi Masa Depan Kita untuk Generasi Selanjutnya – Polusi Merkuri dan Inisiatif Prefektur Kumamoto” yang berlangsung di Gedung 720 Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BJ Habibie, Serpong, Senin (23/2).
Tia Agustiani, Perekayasa Ahli Pertama dari Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN sekaligus alumnus Prefectural University of Kumamoto, memaparkan hasil penelitiannya mengenai pencemaran merkuri di kawasan penambangan rakyat. Studi dilakukan di wilayah Gunung Pongkor–Bogor dan Waluran–Sukabumi, dua lokasi yang dikenal memiliki aktivitas PESK.
Ia menjelaskan, konsentrasi merkuri ditemukan pada berbagai media lingkungan, mulai dari tanah, sedimen, ikan hingga daun singkong. Kelompok rentan seperti anak-anak disebut berisiko tinggi terpapar. Di Gunung Pongkor, paparan terbesar berasal dari daun singkong (46 persen), disusul ikan (29 persen). Di Waluran Sukabumi, ikan menjadi kontributor utama paparan merkuri sebesar 39 persen.
Menurut Tia, pola tersebut memperlihatkan bahwa rantai makanan menjadi jalur penularan merkuri paling signifikan. Karena itu, intervensi ilmiah dan pengawasan penggunaan merkuri pada tambang rakyat perlu diperkuat.
Pada sesi berikutnya, Perekayasa Ahli Pertama BRIN, Fuzi Suciati Sastraatmaja, memaparkan risetnya mengenai keberadaan merkuri dalam air lindi di sejumlah tempat pembuangan akhir (TPA), seperti Cipeucang, Galuga, Bantar Gebang, dan Rawa Kucing. Analisis dilakukan menggunakan USEPA Method 7473. Ia menemukan, meski merkuri terdeteksi, konsentrasinya masih di bawah baku mutu. Fuzi juga menawarkan pendekatan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah industri dan agroindustri seperti fly ash, bottom ash, serta biomassa sebagai material penyerap merkuri ramah lingkungan.
Sementara itu, Fitri Yola Amandita, Peneliti Ahli Muda BRIN, menguraikan teknologi pemulihan lahan tercemar merkuri menggunakan metode fisikokimia serta pendekatan biologis seperti bakteri bioremediasi dan fitoremediasi. Ia mengungkap keberhasilan mengisolasi 27 bakteri resisten merkuri dari sampel tanah di Sukabumi, dengan lima isolat memiliki ketahanan paparan hingga 100 ppm. Fitri juga menguji penggunaan sekam padi yang diinokulasi bakteri untuk menurunkan akumulasi merkuri pada tanaman padi.
Penelitian menunjukkan, perlakuan sekam padi dengan bakteri mampu menahan lebih banyak merkuri di akar, sehingga kadar pada bulir padi menjadi lebih rendah. Namun, Fitri menegaskan bahwa tantangan terbesar adalah membawa teknologi laboratorium ke implementasi lapangan yang mudah diadopsi masyarakat.
Melalui kegiatan diseminasi ini, BRIN bersama Prefektur Kumamoto menegaskan komitmen kolaborasi riset dan inovasi untuk mewujudkan lingkungan bebas merkuri bagi generasi mendatang. (Redaksi)
