Riset BRIN Bongkar Misteri Situs Jere di Ternate, Ternyata Tak Dibangun Sembarangan di Pulau Gunung Api

Bagikan Artikel

TERNATE, Bonarinews.com– Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fakta menarik tentang situs megalitik yang tersebar di Pulau Ternate, Maluku Utara. Situs batu kuno yang dikenal masyarakat sebagai Jere ternyata tidak dibangun secara acak, melainkan dipilih dengan pertimbangan kondisi alam, termasuk ancaman erupsi gunung api dan ketersediaan sumber air.

Temuan ini berasal dari riset yang dipimpin oleh peneliti BRIN, Chusni Ansori, yang mengkaji hubungan antara sebaran situs megalitik dengan kondisi geologi di kawasan Ternate Aspiring National Geopark. Penelitian tersebut mencoba memahami bagaimana masyarakat masa lalu mampu beradaptasi dengan lingkungan pulau vulkanik yang didominasi Gunung Gamalama.

Menurut Chusni, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah masyarakat masa lalu telah mempertimbangkan berbagai faktor alam ketika menentukan lokasi situs budaya. Faktor tersebut meliputi potensi bencana gunung api, jarak dari sumber air, kondisi permukaan tanah, hingga bentuk bentang alam di wilayah tersebut.

Pulau Ternate sendiri dikenal sebagai pulau vulkanik yang berada di kaki Gunung Gamalama, salah satu gunung api aktif di Indonesia. Di pulau ini ditemukan banyak peninggalan megalitik berupa menhir dan monolit yang oleh masyarakat setempat disebut Jere. Hingga kini, situs tersebut masih dianggap sakral dan sering dijadikan tempat ritual serta ziarah oleh warga.

Dari hasil survei lapangan, tim peneliti menemukan sedikitnya 56 titik situs megalitik yang tersebar di berbagai wilayah Pulau Ternate. Sebagian besar situs tersebut berada di dataran rendah serta dekat dengan sumber air, yang menunjukkan adanya pola pemilihan lokasi yang tidak sembarangan.

Analisis penelitian menunjukkan sekitar 37,49 persen situs berada pada ketinggian kurang dari 50 meter di atas permukaan laut. Selain itu, banyak situs ditemukan di area kaki gunung dan lereng bawah Gunung Gamalama yang dinilai lebih aman dibandingkan kawasan dengan ketinggian lebih tinggi.

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa masyarakat masa lalu sudah memiliki pengetahuan lingkungan yang cukup baik. Mereka mampu memilih lokasi yang relatif aman dari ancaman bencana alam, namun tetap dekat dengan sumber daya penting seperti air.

Dalam penelitian ini, tim menggunakan pendekatan spatial geoarchaeology yang memadukan kajian arkeologi dan geologi. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, analisis geokimia batuan menggunakan teknologi XRF, pemodelan digital elevasi wilayah, serta analisis spasial berbasis sistem informasi geografis dengan metode Analytical Hierarchy Process.

Dari tujuh parameter geologi yang dianalisis, peneliti menemukan tiga faktor utama yang paling memengaruhi penempatan situs megalitik di Pulau Ternate.

Faktor pertama adalah tingkat bahaya erupsi gunung api dengan pengaruh sekitar 37,97 persen. Sebagian besar situs ternyata berada di luar zona bahaya erupsi Gunung Gamalama.

Faktor kedua adalah jarak dari sungai atau sumber air dengan tingkat pengaruh sekitar 25,75 persen. Banyak situs berada dalam jarak kurang dari 250 meter dari aliran air, menandakan pentingnya sumber air bagi kehidupan masyarakat masa lalu.

Faktor ketiga adalah kondisi geomorfologi atau bentuk bentang alam. Situs Jere umumnya berada di wilayah kaki gunung dengan relief yang lebih landai sehingga memudahkan mobilitas manusia.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa situs Jere tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mencerminkan hubungan erat antara manusia dengan lingkungan alamnya. Tradisi tersebut bahkan masih bertahan hingga sekarang.

Dalam ritual adat Kololi Kie, masyarakat Ternate mengunjungi sejumlah situs Jere untuk memanjatkan doa serta memohon keselamatan dari potensi erupsi Gunung Gamalama. Hal ini menunjukkan bahwa gunung api tidak hanya dipandang sebagai ancaman, tetapi juga bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat.

Hasil penelitian ini juga dinilai penting untuk mendukung pengembangan Ternate Aspiring National Geopark. Dalam konsep geopark, kekayaan geologi tidak berdiri sendiri, melainkan juga berkaitan dengan keanekaragaman budaya dan kehidupan masyarakat.

Dengan memahami hubungan antara situs budaya dan kondisi geologi, pengelolaan kawasan geopark diharapkan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi. Selain untuk konservasi, kajian ini juga berpotensi mendukung pengembangan pendidikan dan pariwisata berbasis geowisata di Ternate. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *