Bonarinews.com | JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional menyiapkan strategi berbasis teknologi untuk meningkatkan produksi susu nasional yang hingga kini masih menghadapi berbagai kendala struktural, terutama dominasi peternak skala kecil.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, R. Nunung Nuryartono, mengatakan bahwa peningkatan produktivitas tidak bisa lagi mengandalkan cara konvensional. Diperlukan intervensi melalui inovasi teknologi yang terarah dan berkelanjutan.
Menurutnya, salah satu tantangan utama adalah keterbatasan akses peternak kecil terhadap teknologi dan pasar, terutama di wilayah sentra seperti Jawa Timur dan Jawa Barat.
“Produktivitas harus ditingkatkan dengan dukungan teknologi tepat guna, sekaligus membuka akses pasar agar peternak kecil bisa berkembang,” ujarnya dalam forum internasional di Jakarta.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIN mengembangkan tiga pilar utama. Pertama, peningkatan kualitas genetik ternak guna menghasilkan sapi perah dengan produktivitas tinggi. Kedua, penerapan pertanian cerdas berbasis Internet of Things untuk memantau kondisi ternak secara real time. Ketiga, inovasi pakan guna meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi susu.
Namun demikian, Nunung menekankan bahwa tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh inovasi tersebut dapat diakses secara luas oleh peternak kecil di lapangan.
Di sisi lain, meningkatnya permintaan susu nasional, termasuk dari program pemenuhan gizi seperti makanan sekolah, semakin menegaskan pentingnya percepatan pembangunan industri susu dalam negeri.
BRIN juga mendorong pendekatan terintegrasi yang tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi melalui konsep ekonomi sirkular.
Dalam kebijakan jangka panjang, BRIN menetapkan lima fokus utama, yakni peningkatan produksi, pengurangan impor, peningkatan kesejahteraan petani, penguatan sistem peternakan berkelanjutan, serta penguatan rantai nilai industri susu nasional.
Nunung menegaskan, kolaborasi antara pemerintah, industri, peternak, dan lembaga riset menjadi kunci dalam mewujudkan kemandirian susu nasional.
“Kami siap memberikan dukungan ilmiah dan inovasi. Dengan kerja sama yang kuat, sektor peternakan sapi perah Indonesia bisa lebih tangguh dan berdaya saing,” pungkasnya.