Tarutung, Bonarinews.com — Presiden Mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung, Yosef Aprian Simanjuntak, mengeluarkan kritik terhadap Kepala BNPB, Suharyanto, menyusul pernyataan yang dianggap kurang sensitif di tengah penderitaan masyarakat akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dalam konferensi pers, Suharyanto menjelaskan, penetapan status bencana nasional harus didasarkan pada kriteria tertentu, seperti jumlah korban dan akses ke lokasi terdampak, bukan sekadar dari kesan “mencekam” yang terlihat di media sosial. Ia menegaskan, situasi saat ini masih dikategorikan sebagai bencana daerah tingkat provinsi.
Namun, Yosef menilai masyarakat membutuhkan tindakan nyata di lapangan, bukan sekadar penilaian yang terdengar meremehkan. “Ketika rumah warga hanyut, jalan rusak, dan korban jiwa berjatuhan, ini bukan sensasi,” ujarnya, di Tarutung, Senin (1/12/2025).
“Korban dan suara masyarakat harus didengar, jangan dibiarkan tenggelam di antara kata-kata kosong,” katanya melanjutkan.
Mahasiswa itu menekankan kritiknya sebagai bentuk kontrol sosial agar BNPB dan pemerintah hadir secara nyata di lapangan, memastikan bantuan logistik, evakuasi, dan perlindungan warga terdampak dapat berjalan optimal.
Yosef menegaskan, dorongan ini bukan permusuhan, melainkan seruan agar negara menunjukkan empati dan komitmen nyata saat warga tengah menderita.
“BNPB harus segera mengevaluasi sikap dan prioritasnya. Fokus harus pada bantuan dan pemulihan, bukan sekadar citra atau pernyataan publik,” tambahnya.
Kritik ini menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, aksi nyata jauh lebih penting daripada kata-kata, terutama bagi masyarakat yang terdampak langsung.
Reporter: Lindung Silaban
