Oleh Devilaria Damanik
Tahun baru di Laut Halmahera tidak pernah terasa sebegitu seru bagi enam anak muda ini. Dengan tiket yang cuma cukup untuk empat orang, ide-ide “nakal” yang terus muncul di kapal Cantika Lestari membuat perjalanan lintas pulau penuh gelak tawa, panik, dan deg-degan. Ombak memantul di bawah sinar matahari pagi, aroma asin laut, dan suara deru mesin kapal menjadi saksi petualangan mereka yang konyol tetapi juga penuh pelajaran tentang kejujuran dan persahabatan.
Tiga orang awalnya sudah merencanakan perjalanan: Wina, Cla, dan Cristin. Malam sebelum keberangkatan, Ever mendaftar untuk ikut, diikuti Roesly beberapa jam sebelum mobil jemputan datang. Aku pun langsung bergabung, tanpa sempat mandi atau bersiap, karena mobil sudah menunggu.
Pada 21 Desember, supir Xenia Silver membawa kami dari Tobelo ke Pelabuhan Sofifi. Biaya normal Rp200.000 per orang, tapi karena kami menawar untuk enam orang, kami cukup membayar Rp1 juta. Setibanya di pelabuhan, tiket kapal seharga Rp400.000 per orang hanya kami beli untuk empat orang, sementara kamar ABK seharga Rp800.000, kami dapat seharga Rp600.000.
Ketegangan mulai terasa saat pemeriksaan tiket. Cla dan Roesly patung di kamar karena ketakutan, rapat dan diam, sementara aku duduk di bangku depan kamar, mencoba berbicara santai dengan petugas yang melarangku berjalan-jalan. Ever pucat pasi di luar kamar, dan keheningan mengisi kamar hingga pemeriksaan selesai.
Setelah pemeriksaan berakhir, tawa pecah di kamar saat kami makan pop mie sambil mengenang momen menegangkan itu. Aku, yang telah menyeduh kopi di luar kamar, menyesapnya sambil menikmati pemandangan laut. Sisa kopi yang kami buat pun dijual ke penumpang lain, sepuluh ribu per cangkir, sementara kami tetap menikmati kekonyolan perjalanan ini.
Perjalanan di kapal panjang dan singgah di beberapa pelabuhan. Kadang kami keluar kamar untuk melihat lautan lepas atau pergi ke kamar mandi. Meski tiket hanya untuk empat orang dan kamar seharusnya menampung kami berdua lebih sedikit, kami berenam berkelana di kapal, tertawa, bercanda, dan sesekali merasa deg-degan jika ada petugas lewat.
Setahun kemudian, Sabtu, 3 Januari, perjalanan di kapal yang sama jauh lebih tertib. Wina membeli tiket bed untuk enam orang, namun kamar tidak tersedia. Kami tidur di dek kapal, enam bed tersedia, dengan biaya Rp360.000 per orang. Om Son, pemilik kamar yang dulu kami tempati, memperlakukan kami seperti anak sendiri. Malamnya, ia menyediakan kipas angin, pagi hari membangunkan kami dengan teh hangat, sementara dirinya tidur seadanya di pinggir dek.
Kenangan di kapal Cantika Lestari mengajarkan kami bahwa terkadang “kegilaan kecil” bukan semata karena kekurangan, tapi karena ingin merasakan kebebasan—sambil belajar mengakui kesalahan dan menerima maaf. Laut yang membentang luas, angin yang menerpa wajah, dan gelak tawa di dek kapal menjadi saksi bahwa hidup memang tidak selalu lurus, tetapi hati yang tulus selalu menemukan jalannya.