Perjalanan, Kehilangan, dan Keberanian Membuat Jalan Sendiri

Bagikan Artikel

Oleh: Devilaria Damanik

Ada kalanya hidup tampak seperti perjalanan udara: jadwal yang padat, langkah yang harus cepat, dan ketidakpastian yang datang tanpa pemberitahuan. Dalam perjalanan itu, kita belajar satu hal yang sering luput disadari—bahwa keberanian terbesar bukanlah tiba di tujuan, melainkan berani berangkat.

Aku sering merasa menjadi perempuan yang beruntung. Pendidikan yang cukup, kesehatan yang baik, serta kehidupan keluarga yang relatif mapan adalah anugerah yang tidak semua orang miliki. Banyak orang mungkin menginginkan posisi itu. Namun di balik segala keberuntungan yang tampak dari luar, ada ruang batin yang tidak selalu seimbang dengan apa yang terlihat.

Kadang aku berpikir, seandainya semua itu tidak kumiliki sejak awal, mungkin aku tidak terlalu terbebani oleh ekspektasi. Ketimpangan antara penampilan luar dan pergulatan batin tidak akan terlalu menjadi perhatian.

Aku adalah anak pertama dari 4 bersaudara, lahir dari keluarga aparatur sipil negara. Orang tuaku adalah abdi negara yang selama puluhan tahun mengabdikan diri pada negara. Bahkan setelah masa tugas mereka selesai, jaminan masa tua tetap mengalir sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian mereka.

Ayahku selalu memiliki cara sendiri untuk menyemangati anak-anaknya. Ketika ada lomba, seleksi, atau kesempatan apa pun, ia akan berkata dengan penuh keyakinan, “Kalau ada lima yang diambil, akulah satu di dalamnya.” Kalimat itu sederhana, tetapi sarat dorongan untuk berani maju dan bertarung.

Ia selalu antusias mempersiapkan anak-anaknya menghadapi apa yang ia sebut sebagai “perang kehidupan”.

Namun aku juga pernah melihat sisi lain dari kalimat itu—mata ayah yang penuh kekecewaan ketika aku tidak berhasil mengikuti jejaknya. Ia berhasil membawa ibu menjadi seperti dirinya: pegawai yang tanda tangannya dibutuhkan banyak orang. Rumah kami sering didatangi orang, mulai dari mereka yang baru memulai karier hingga yang ingin naik jabatan.

Banyak buah tangan datang sebagai tanda terima kasih.

Namun suatu hari aku memilih jalan yang berbeda. Aku meninggalkan rumah orang tua tanpa kepastian tentang di mana aku akan menetap. Aku ingin menulis ceritaku sendiri. Aku ingin mengetahui seberapa jauh keberanian dapat membawaku melangkah.

Perjalanan itu ternyata dipenuhi pertemuan dengan orang-orang baik.

Suatu waktu di Ternate, aku pernah tertinggal pesawat. Seorang kawan yang sedang sibuk tetap menyempatkan diri mentransfer uang untuk makan. Ia sempat menyebutku ceroboh, tetapi aku tahu itu bentuk kepedulian. Mungkin ia mengerti karena pernah mengalami hal yang sama.

Aku merekam beberapa detik ucapan terima kasih dari kursi pesawat Batik Air di Bandara Soekarno-Hatta. Sebuah cara kecil untuk mengabadikan kebaikan yang sering datang di saat tidak terduga.

Di bandara lain, seorang kawan dari dinas perhubungan menjabat tanganku dan melambaikan tangan ketika aku hendak masuk pemeriksaan. Di depan kantor, Pak Syamsul—seorang komandan yang akan pensiun tahun depan—berbincang panjang tentang dunia penerbangan dan berharap suatu hari kami akan bertemu lagi.

Perjalanan kemudian membawaku ke Jakarta pada Sabtu pagi. Kota ini selalu terasa seperti simpul besar jaringan manusia. Semua bergerak cepat. Transportasi tersedia di mana-mana: kereta layang, kereta bandara, mobil daring.

Namun bagi seseorang yang terbiasa dengan ritme yang berubah-ubah, Jakarta sering terasa terlalu cepat.

Setelah tiba di rumah keluarga di Tangerang, aku membersihkan diri dan makan seadanya sebelum akhirnya merebahkan tubuh. Beberapa kawan datang hanya untuk melihatku dan bercerita. Aku mengantuk, setengah mendengar percakapan mereka sebelum akhirnya tertidur.

Ketika bangun, mereka sudah pamit. Rupanya mereka sudah lama bercerita.

Dini hari, aku terbangun lagi dan berbincang dengan adikku. Nasihat-nasihatnya sebenarnya sudah sering kudengar, tetapi kali ini aku hanya mendengarnya seperti hujan yang turun di luar rumah—hadir, tetapi tidak lagi benar-benar masuk.

Hujan memang turun deras malam itu. Beberapa jalan di Tangerang tergenang, membuat kami harus berputar mencari jalur lain. Rasanya seperti banyak tempat yang ingin menahanku lebih lama.

Namun perjalanan harus terus berlanjut.

Bandara Soekarno-Hatta luas dan langkah harus cepat. Aku berjalan cepat, kadang berlari kecil. Hampir sepuluh menit berjalan hanya untuk menuju tempat pemeriksaan bagasi.

Penerbangan ke Lombok awalnya dijadwalkan di gate D6, lalu mendadak dipindahkan ke D4 ketika waktu boarding hampir tiba. Aku tidak sempat menggerutu. Kursi di sampingku kosong—entah memang tidak ada penumpang atau seseorang tertinggal. Di kursi tengah itu aku meletakkan ponsel setelah tidak kugunakan lagi.

Di Lombok, waktu transit terasa sangat singkat. Penumpang di depan berjalan lambat keluar dari pesawat, sementara waktu terus berjalan. Aku kembali berlari kecil menuju pemeriksaan berikutnya.

Di depan, seorang penumpang hampir jatuh karena terburu-buru mengejar boarding. Ia benar-benar jatuh karena takut tertinggal pesawat.

Tidak ada yang tertawa. Hanya aku.

Dan entah mengapa, tawa kecil itu cukup menghibur kelelahan yang menumpuk sejak pagi.

Namun beberapa menit kemudian tawa itu menghilang. Jam di tanganku terasa berjalan lebih cepat. Pesawat berikutnya benar-benar berangkat tepat waktu. Bahkan jika aku memutuskan pergi ke kamar mandi, mungkin aku akan tertinggal.

Ketika akhirnya duduk di dalam pesawat Wings Air yang akan membawaku ke tujuan akhir, aku merasa lebih tenang. Setidaknya kali ini aku tidak akan tertinggal.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Seorang petugas dari Bandara Waingapu di Sumba mendekat dan meminta boarding pass serta kartu identitasku. Dengan sopan ia menyampaikan permintaan maaf.

Tas ransel dan koperku tertinggal di Lombok.

Untuk beberapa detik aku terdiam. Semua barang yang kubawa dalam perjalanan itu tidak ikut bersamaku. Yang tersisa hanya pakaian yang melekat di tubuh.

Di momen itu aku tiba-tiba tertawa kecil dalam hati.

Mungkin beginilah rasanya menjadi avatar dalam kehidupan nyata—bergerak dari satu tempat ke tempat lain, membawa pengalaman, meninggalkan barang-barang, tetapi tetap melangkah dengan cerita yang terus bertambah.

Perjalanan ternyata tidak selalu tentang apa yang kita bawa. Kadang justru tentang apa yang hilang di tengah jalan, dan bagaimana kita tetap melanjutkan langkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *