Medan, BonariNews.com – Sekitar dua puluh guru dan pengurus Bank Sampah di Marelan mengikuti Pelatihan Menulis Praktik Baik yang digelar oleh Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan CDP (Community Development Project), Selasa (24/2/2026). Kegiatan bertajuk “Menulis Dampak, Menggerakkan Perubahan” ini berlangsung di Meeting Room Foresthree Marelan Kafe, Medan, dan menghadirkan Dedy Hutajulu, jurnalis sekaligus penulis buku, sebagai pelatih utama.
Pelatihan yang diikuti sekitar 20 fasilitator dari sekolah-sekolah di Belawan dan Marelan ini berlangsung sangat interaktif dan penuh antusiasme. Saat sesi diskusi, peserta saling menajamkan gagasan sehingga praktik baik yang mereka terapkan di sekolah bisa tergali lebih mendalam.
Nurul, salah satu guru dari SD di Belawan, menceritakan, di sekolah tempat dia mengajar, ada praktik baik pembuatan eco enzym dari sampah sisa makanan murid-murid. “Anak-anak kami belajar membuat eco enzym dan hasilnya mereka pakai buat memupuk kebun sayur di belakang sekolah. Ini membuat mereka lebih peduli lingkungan,” jelas Nurul.
Sementara itu, Asriyati (51), pengurus Bank Sampah di Marelan yang juga hadir sebagai peserta, menekankan pentingnya pendidikan lingkungan yang tepat. “Pelatihan ini lebih spesifik melibatkan guru karena mereka yang mengajarkan anak-anak. Saya sarankan fokusnya jangan soal sampah jadi uang, tapi mengedukasi anak untuk mengurangi sampah. Sehingga ketika dewasa, mereka punya mindset peduli lingkungan,” ujarnya.
Menurut Anwar Suhut, pelatihan ini menjadi momen penting untuk mendokumentasikan praktik baik di sekolah. “Kita akan menulis buku yang menjelaskan perubahan mindset siswa, guru, dan kepala sekolah terkait pengelolaan sampah. Banyak hal baik terjadi, tapi jika tidak terdokumentasi, sayang sekali jika orang lain tidak tahu,” jelas Anwar.

Dari sesi penggalian praktik baik, sudah muncul beberapa topik yang siap digarap oleh peserta di sekolah masing-masing. Sebanyak 120 sekolah mitra binaan GNI Medan CDP menjadi sumber utama praktik baik yang akan diangkat. Para fasilitator yang dilatih hari ini akan menulis pengalaman tersebut sebagai bahan penulisan buku, yang nantinya dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain di Medan dan sekitarnya.
Setiap fasilitator akan menulis minimal satu karya dari enam sekolah berbeda. Tulisan-tulisan ini akan disaring untuk menentukan yang paling berdampak sebelum dikompilasi menjadi buku. Menurut Anwar, buku ini bukan hanya catatan, tapi juga sumber inspirasi bagi guru, kepala sekolah, dan komunitas pendidikan.
Pelatihan juga membekali peserta dengan teknik menulis dan cara mengidentifikasi perubahan signifikan di sekolah, mulai dari kesadaran siswa membuang sampah pada tempatnya hingga guru yang mengajarkan perilaku peduli lingkungan dengan efektif.
Acara ditutup dengan pengarahan jadwal penyelesaian tulisan, sesi foto bersama, dan pembagian makanan bagi peserta yang menjalani puasa. Program ini diharapkan mampu memperkuat literasi, mendokumentasikan praktik baik, dan mendorong perubahan perilaku ramah lingkungan yang lebih luas. (Redaksi)
