Medan | Bonarinews.com – Menjelang musim liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025, Dishub Sumut bersama Ditlantas Polda Sumut dan instansi terkait menggelar rapat koordinasi untuk memastikan kelancaran dan keselamatan arus mudik. Rapat yang berlangsung di kantor Ditlantas Polda Sumut, Jumat (13/12/2024), membahas langkah strategis menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat.
Kadishub Sumut, Dr. Agustinus Panjaitan, menjelaskan, sekitar 90 persen pergerakan masyarakat selama Nataru berbasis jalan raya. Diprediksi, Sumut akan menerima tambahan arus 9 juta orang, sementara 7,6 juta lainnya akan keluar provinsi.
“Kami telah mengidentifikasi 120 titik rawan, termasuk macet, longsor, dan kecelakaan. Penanganan awal seperti pemasangan rambu-rambu dan rekayasa lalu lintas sedang kami prioritaskan,” ujar Agustinus.
Selain infrastruktur jalan, Dishub Sumut juga mempersiapkan moda transportasi lainnya, seperti angkutan laut, udara, dan kereta api, dengan prediksi kenaikan penumpang 10-15 persen. “Kami mendorong masyarakat untuk beralih dari sepeda motor ke angkutan umum demi keselamatan,” tambahnya.
Untuk mendukung kelancaran arus mudik, pembatasan operasional mobil barang diberlakukan di beberapa ruas jalan nasional, seperti Medan-Binjai-Kabanjahe-Sidikalang, Medan-Tebing Tinggi-Parapat, dan Pematang Siantar-Parapat.
Pembatasan ini berlaku pada tanggal 20–22, 24, 26–29 Desember 2024, dan 1 Januari 2025, pukul 05.00–22.00 WIB. Namun, kendaraan pengangkut BBM/BBG, uang, hewan ternak, pakan, bahan pokok, pupuk, dan kebutuhan bencana alam tetap diizinkan melintas.
“Khusus di Sumut, pembatasan berlaku untuk mobil barang dengan sumbu tiga ke atas, kereta tempelan, kereta gandengan, serta pengangkut hasil tambang, galian, dan bahan bangunan,” ungkapnya.
Dirlantas Polda Sumut, Kombes Muji Ediyanto, menyoroti persoalan sopir angkutan yang terkontaminasi narkoba, yang berpotensi membahayakan penumpang. Dalam ramp check sepekan lalu, 20 sopir positif narkoba, menjadi perhatian publik. Banyak fakta dan kejadian di Sumut dimana sopir yang terkontaminasi narkoba terlibat dalam kecelakaan fatal.
“Kasus kecelakaan di Toba jadi pelajaran besar. Sopir begadang menggunakan narkoba, lalu mengemudi, mengakibatkan nyawa penumpang terancam. Pemeriksaan rutin di terminal dan titik tertentu terus dilakukan untuk mencegah korban jiwa dan luka berat,” jelas Muji.
Kombes Muji juga menyoroti perlunya kolaborasi lintas instansi dalam mengatasi berbagai kendala di lapangan. “Masalah seperti jalan gelap dan rawan kecelakaan butuh keterlibatan PLN dan pihak terkait. Kita harus melepaskan sekat kewenangan untuk berkolaborasi demi keselamatan bersama,” tegasnya.
Kolaborasi lintas instansi menjadi kunci untuk mengatasi berbagai kendala, seperti jalan rusak, pasar tumpah, dan kurangnya penerangan jalan. Dishub Sumut berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat lebih proaktif agar masyarakat bisa menikmati perjalanan mudik dengan aman dan nyaman. (Dedy Hu)
