Mendiktisaintek dan Kepala BRIN Tegaskan: Indonesia Harus Jadi Pemimpin Perubahan Berbasis Sains dan Integritas

Bagikan Artikel

Jakarta, BonariNews.com — Dorongan agar Indonesia tidak lagi terjebak dalam ekonomi berbasis operasi dan perdagangan kembali digaungkan. Dalam forum Ramadhan Leadership ICMI 1447H/2026M di kawasan riset Badan Riset dan Inovasi Nasional BRIN, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa masa depan Indonesia sepenuhnya ditentukan oleh penguasaan sains, teknologi, dan inovasi.

Di hadapan para cendekiawan, Brian menyampaikan, dunia kini bergerak dalam ritme perubahan yang semakin cepat. Perubahan iklim, kecerdasan buatan, dinamika geopolitik, hingga fluktuasi ekonomi global menuntut negara untuk memiliki kemampuan adaptasi yang kuat. Tanpa kepemimpinan berbasis IPTEK, menurutnya, sebuah negara akan sulit punya posisi tawar di panggung internasional.

Brian menyoroti kondisi industri nasional yang masih bergantung pada tenaga kerja berpendidikan menengah. Dominasi 67,01% tenaga kerja pada level ini membuat industri tidak banyak bergerak dari zona operasional. Di saat yang sama, ancaman brain drain serta minimnya ekosistem riset membuat talenta Indonesia rawan berpindah ke luar negeri.

Ia menegaskan, bangsa yang kuat harus membangun industrinya sendiri. Para ahli—dari semikonduktor hingga mineral kritis—tak mungkin kembali ke tanah air jika tidak ada ruang inovasi yang siap menampung keahlian mereka.

Dalam penjelasannya, Brian menyebut bagaimana perusahaan teknologi global seperti NVIDIA mampu meraih valuasi hingga Rp 80.000 triliun karena bertumpu pada riset dan sains tingkat tinggi. Contoh tersebut menjadi gambaran nyata bahwa masa depan ekonomi ditentukan oleh inovasi, bukan sekadar perdagangan.

Brian juga menekankan pentingnya ambisi besar. Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi 8% bukan sesuatu yang mustahil, asalkan seluruh elemen bangsa bergerak bersama. Semua negara yang berhasil lolos dari jebakan pendapatan menengah memiliki kesamaan: pemimpin dengan visi besar dan masyarakat yang bermental pekerja keras.

Ia bahkan mengajak para cendekiawan menghidupkan semangat beyond nationalism, nasionalisme yang tidak berhenti pada seremoni, tetapi diwujudkan melalui karya teknologi yang mampu bersaing di level global. Korea Selatan menjadi contoh bagaimana produk teknologi domestik bisa menjadi simbol kebanggaan nasional.

Dalam perspektif spiritual, Brian menyinggung sosok sahabat Rasulullah, Abdurrahman bin Auf, sebagai simbol ketekunan dan kecakapan ekonomi. Bagaimana seorang pebisnis mampu menggerakkan Madinah melalui kecerdasan pasar menjadi teladan bahwa kerja keras dan integritas adalah jalan menuju kesejahteraan bangsa.

Di akhir paparannya, Brian mengingatkan bahwa Indonesia memiliki jendela kesempatan yang terbatas. Bonus demografi akan berakhir sekitar tahun 2040, dan sebelum itu bangsa ini harus membangun fondasi kuat di tiga sektor: swasembada pangan, hilirisasi teknologi, dan penguatan riset.

Pada sesi berikutnya, Kepala BRIN yang juga Ketua Umum ICMI, Arif Satria menegaskan, transformasi teknologi tidak akan berjalan tanpa kualitas manusia yang kuat. Ia mengutip pesan Einstein tentang pentingnya belajar seumur hidup, karena berhenti belajar berarti berhenti hidup.

Arif memperkenalkan konsep growth mindset sebagai modal utama menghadapi masa depan. Dunia yang terus berubah menuntut bukan hanya pengetahuan, tetapi kreativitas, imajinasi, dan kemampuan belajar cepat. Menurutnya, pemimpin perubahan harus memiliki integritas—jujur, cerdas, dan dapat dipercaya—agar punya legitimasi dalam memimpin transformasi.

Arif menutup dengan pesan tegas: para cendekiawan tidak boleh berhenti pada inspirasi lisan. Perubahan hanya akan terjadi melalui karya nyata dan inovasi yang menyentuh kehidupan masyarakat. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *