Korban Banjir dan Longsor di Sumut Terus Bertambah, 372 Jiwa Terenggut, Sejumlah Wilayah Masih Terisolasi

Bagikan Artikel

BONARINEWS.COM, MEDAN — Jumlah korban tewas akibat bencana banjir dan longsor di Sumatra Utara terus bertambah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumut mencatat hingga Rabu pagi, 7 Januari 2026, sedikitnya 372 orang meninggal dunia dan 42 lainnya masih dinyatakan hilang.

Data tersebut disampaikan BPBD Sumut berdasarkan laporan yang dihimpun hingga pukul 08.00 WIB. Selain korban meninggal dan hilang, tercatat 126 orang mengalami luka-luka akibat bencana yang melanda hampir seluruh kawasan pantai barat dan pegunungan Sumatra Utara sejak akhir Desember lalu.

Kabupaten Tapanuli Tengah menjadi wilayah dengan jumlah korban tertinggi. Di daerah ini, 129 orang dilaporkan meninggal dunia dan 35 orang masih dalam pencarian. Posisi kedua ditempati Kabupaten Tapanuli Selatan dengan 93 korban tewas dan empat orang dinyatakan hilang. Sementara di Kota Sibolga, korban meninggal tercatat sebanyak 55 orang.

Bencana banjir dan longsor ini berdampak luas. BPBD Sumut mencatat kejadian tersebar di 19 kabupaten dan kota. Jumlah warga terdampak mencapai lebih dari 1,8 juta jiwa, dengan 12.620 orang di antaranya masih bertahan di lokasi pengungsian.

Sejumlah daerah masih menghadapi keterbatasan akses akibat kerusakan infrastruktur. Di beberapa kabupaten, jalur utama belum sepenuhnya pulih sehingga menghambat distribusi logistik dan proses evakuasi. Tim gabungan dari pemerintah daerah, TNI, Polri, dan relawan masih bekerja membersihkan material longsor dan memperbaiki jalan serta jembatan yang rusak.

BPBD menyebutkan angka korban masih bersifat sementara dan berpotensi berubah. Proses pencarian korban hilang terus dilakukan di sejumlah titik rawan, terutama di wilayah yang tertimbun longsor dan sepanjang aliran sungai yang meluap.

Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat masih menetapkan status tanggap darurat di sejumlah wilayah terdampak. Upaya penanganan difokuskan pada pencarian korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, serta pemulihan akses transportasi agar bantuan dapat menjangkau daerah-daerah yang masih terisolasi. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *