Kampung Timur, BonariNews.com — Konflik antara manusia dan gajah kembali memuncak di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. Insiden yang menewaskan Kepala Desa Braja Asri, Darusman, setelah diserang gajah liar, mendorong pemerintah daerah mengambil langkah cepat. Seluruh aktivitas wisata di Way Kambas dihentikan sementara, kecuali penelitian dan kegiatan pendidikan. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan pagar pembatas permanen di wilayah rentan konflik.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Raden Wisnu Nurcahyo, menilai meningkatnya konflik tidak lepas dari perubahan drastis pada habitat gajah. Ia menyebut penyempitan kawasan hutan, deforestasi, serta alih fungsi lahan membuat gajah kehilangan sumber pangan dan air.
“Gajah akhirnya keluar ke kebun warga karena habitat alaminya makin terfragmentasi. Ini yang memicu kerusakan lahan dan benturan dengan masyarakat,” kata Wisnu di Yogyakarta, Selasa, 3 Februari 2026.
Menurut Wisnu, persoalan tidak hanya datang dari luar hutan. Pengelolaan gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) juga menghadapi tantangan. Gajah-gajah yang ditangkap dan ditempatkan di PLG dalam jangka panjang berpotensi mengalami penyempitan keragaman genetik dan risiko inbreeding. Perbedaan asal-usul gajah yang dikumpulkan ke satu lokasi turut mempengaruhi kestabilan populasi.
Di sisi lain, perburuan liar dan pemasangan jerat ilegal masih terjadi. Tekanan ini membuat gajah bersikap defensif dan lebih agresif ketika bertemu manusia. Wisnu menyebut rangkaian faktor ini sebagai “kombinasi sempurna” yang membuat konflik semakin sering berujung fatal, baik bagi warga maupun gajah.
Untuk menekan eskalasi konflik, Wisnu mengusulkan strategi terpadu. Pertama, membangun pagar dan tanggul permanen sepanjang kurang lebih 70 kilometer di batas taman nasional. Kedua, memulihkan habitat dengan memperkaya vegetasi pakan di dalam kawasan agar gajah tidak terdorong keluar. Ketiga, menggunakan teknologi seperti GPS collar untuk memantau pergerakan gajah liar.
“Pendekatannya harus menyeluruh, tidak hanya fisik. Perlu pelibatan masyarakat, polisi hutan, hingga TNI–Polri dalam patroli terpadu,” ujar Wisnu.
Ia menekankan bahwa gajah memiliki memori ruang yang kuat. Mereka akan terus mengikuti jalur migrasi lamanya, meski wilayah tersebut kini berubah menjadi pemukiman atau kebun. Karena itu, penataan ruang dan zona inti taman nasional harus dipulihkan agar gajah tetap memiliki ruang hidup yang aman.
Pemerintah daerah berharap pembangunan pagar pembatas bisa menjadi solusi jangka pendek, sementara restorasi habitat menjadi fondasi jangka panjang untuk meredam konflik yang terus berulang di Way Kambas. (Redaksi)
