“Ketua Geng”, SEAblings, dan Perseteruan Online: Cermin Bagi Kita

Bagikan Artikel

Oleh: Lidya Patricia Silaban

Siapa sangka, dunia maya bisa menghadirkan ketegangan yang terasa begitu nyata? Dalam sebulan terakhir, ruang digital—khususnya platform X—diwarnai eskalasi konflik antara warganet Korea Selatan dan Asia Tenggara.

Menurut laporan CNN Indonesia (12/02/2026), perseteruan bermula dari pelanggaran aturan konser di Malaysia. Pada 31 Januari 2026 di Axiata Arena, seorang penggemar DAY6 asal Korea Selatan kedapatan membawa kamera berlensa panjang—tindakan yang melanggar aturan konser sekaligus hak cipta. Rekaman pelanggaran ini direkam oleh warga lokal Malaysia dan kemudian viral.

Rekaman tersebut memicu luapan reaksi emosional. Sejumlah penggemar Korea Selatan tidak terima, bahkan meluaskan amarah dengan menyinggung kondisi masyarakat Asia Tenggara. Ejekan bernuansa rasis pun bermunculan dan memperuncing suasana.

Dalam situasi itu, solidaritas lintas negara Asia Tenggara muncul melalui tagar SEAblings. Sesuai laporan Detik.com (15/02/2026), SEAblings—gabungan dari Southeast Asia dan siblings—menjadi simbol kebersamaan negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja.

Di tengah memanasnya situasi, muncullah istilah “Ketua Geng”. Akun Instagram @millenialzkece.official menampilkan cuitan warganet Brasil yang memperingatkan warganet Korea Selatan agar tidak memancing konflik dengan Indonesia dan negara-negara ASEAN.

Mereka mengingatkan pengalaman tahun sebelumnya, ketika warganet Brasil sempat berkonflik dengan Indonesia soal Gunung Rinjani—peristiwa yang membuat mereka menyadari besarnya kekuatan warganet Indonesia. Saat itu, rating Amazon sempat turun akibat serbuan warganet Indonesia, sementara upaya warganet Brasil menurunkan rating Rinjani tak membuahkan hasil.

Dengan latar belakang itu, julukan “Ketua Geng” dianggap wajar melekat pada Indonesia. Dalam laporan Suaradesa.co (19/02/2026), warganet Indonesia mendominasi interaksi selama “perang digital” tersebut.

Alih-alih marah, mereka justru membalas komentar bernada rasis dengan humor, candaan, dan komentar spontan. Kombinasi jumlah yang besar dan respons cepat membuat kehadiran warganet Indonesia menjadi sangat mencolok.

Pada titik ini, julukan “Ketua Geng” terdengar lucu bagi sebagian orang Indonesia. Di platform seperti TikTok, akun @jandatawa bahkan menanggapi perseteruan itu dengan tawa dan komentar ringan. Ada rasa bangga tersirat seolah menjadi “pemimpin” dalam hiruk-pikuk dunia maya.

Namun, jika direnungkan lebih jauh, apakah maknanya sesederhana itu?

Data dari We Are Social (31/01/2024) menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia. Masyarakat Indonesia menghabiskan banyak waktu di platform visual seperti Instagram, TikTok, dan X. Budaya solidaritas yang kuat di dunia nyata terbawa masuk ke ruang digital: ketika satu akun dianggap diserang, ribuan akun lain cenderung turun tangan membela.

Tetapi keramaian tidak selalu identik dengan kebenaran. Dalam percepatan arus informasi, reaksi spontan sering mendahului proses berpikir. Solidaritas yang awalnya positif dapat berubah menjadi serangan massal. Pada konteks ini, label “Ketua Geng” lebih tepat dipandang sebagai sindiran ketimbang pujian: bukan karena Indonesia paling hebat, melainkan karena dianggap paling ribut.

Di sinilah refleksi penting muncul. Dunia maya adalah cermin perilaku sosial. Identitas bangsa tidak hanya terbentuk melalui diplomasi formal, tetapi juga dari komentar warganya di internet. Yang diingat bukan hanya jumlah, tetapi cara—bagaimana seseorang, atau sebuah bangsa, bersikap.

Akhirnya, label “Ketua Geng” dapat dilihat sebagai pengingat untuk menyeimbangkan kekuatan jumlah dengan kedewasaan berinteraksi. Karena pada akhirnya, di ruang digital yang tanpa batas, kedewasaanlah yang menjadi ukuran paling nyata.

Penulis adalah mahasiswi Prodi S1 Antropologi Sosial FISIP, Universitas Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *