Ketinggalan Pesawat dan Pelajaran Berharga di Baliknya

Bagikan Artikel

Oleh: Devilaria Damanik

Hari ini, saya mendapatkan pengalaman unik yang mengajarkan pentingnya istirahat, kesabaran, dan rasa peduli terhadap sesama.

PERJALANAN saya dimulai dari Ternate menuju Jakarta, dengan transit di Bandara Juanda, Surabaya. Setelah check-in online, saya menuju ruang tunggu di Surabaya. Malam-malam sebelumnya, kurang tidur akibat jadwal yang padat membuat tubuh saya lelah. Di ruang tunggu, kantuk tak tertahankan, dan akhirnya saya tertidur. Sayangnya, saya melewatkan panggilan keberangkatan pesawat.

Saat terbangun, jadwal penerbangan saya sudah lewat. Dengan langkah cepat, saya menuju kantor customer service. Saya berharap ada kursi kosong di penerbangan berikutnya, tetapi permintaan saya ditolak. Petugas pertama yang saya temui tidak ramah, seolah memaksa saya segera mengambil keputusan untuk membeli tiket baru atau mencari maskapai lain.

Di ruang itu, saya bukan satu-satunya yang menghadapi masalah. Beberapa penumpang lain juga bingung karena jadwal penerbangan yang tidak sesuai. Bahkan, seorang bapak tua mengalami hal serupa. Kami berbagi cerita dan sedikit tawa, mencoba menerima “kesialan” dengan ringan hati.

Akhirnya, saya membeli tiket baru. Di saat yang sama, bapak tua itu meminta bantuan saya membayar tiketnya karena ia hanya membawa uang tunai. Saya merasa bersyukur bisa membantu, meskipun kami akhirnya terpisah karena jadwal penerbangan yang berbeda.

Tiket baru saya ternyata juga mengalami keterlambatan. Pesawat yang semula dijadwalkan berangkat pukul 18.45 WIB, akhirnya baru lepas landas sekitar pukul 20.30 WIB. Tidak ada penjelasan dari pihak maskapai, dan saya hanya bisa menerima keadaan.

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa perjalanan dengan maskapai murah sering kali dibayar dengan waktu. Namun, di balik ketidaknyamanan, ada pelajaran berharga yang saya dapatkan: pentingnya menghargai tubuh dengan istirahat cukup, tetap membantu orang lain meski sedang menghadapi masalah sendiri, dan yang terpenting, belajar menertawakan keadaan untuk meringankan beban.

Hidup memang penuh kejutan, tetapi selalu ada cerita dan pelajaran yang bisa kita bawa pulang. (*)

Tulisan ini saya buat di kursi 18B dalam penerbangan Batik Air menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *