Bonarinews.com | JAKARTA — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia berencana memberikan vaksin Campak kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagai langkah pencegahan penularan di fasilitas layanan kesehatan.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan kebijakan ini disiapkan menyusul adanya risiko penularan pada kelompok dewasa, termasuk tenaga kesehatan.
“Ya, kami akan mengarah ke vaksinasi untuk tenaga medis. Saat ini juga sedang disiapkan analisis dan uji klinis terkait program vaksin yang digunakan,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (30/3/2026).
Meski selama ini campak lebih banyak menyerang balita dan anak-anak, data menunjukkan sekitar 8 persen kasus terjadi pada orang dewasa. Bahkan, tercatat satu kasus kematian akibat campak pada kelompok usia dewasa.
Kasus tersebut menimpa seorang dokter muda peserta program internship yang meninggal dunia akibat komplikasi serius, termasuk gangguan pada otak dan jantung setelah mengalami gejala campak.
Andi menjelaskan, secara umum seseorang yang telah menerima dua dosis vaksin campak dan rubella memiliki perlindungan optimal. Namun, kondisi tertentu seperti penurunan imunitas dapat membuat seseorang tetap rentan terinfeksi.
Di sisi lain, tren kasus campak di Indonesia sepanjang 2026 menunjukkan penurunan signifikan. Pada awal tahun tercatat ribuan kasus suspek dan konfirmasi, namun hingga minggu ke-12 jumlahnya turun drastis menjadi ratusan kasus.
Meski demikian, Kemenkes menegaskan upaya pengendalian tidak boleh kendur, termasuk dengan memperluas cakupan perlindungan kepada tenaga medis yang berisiko tinggi terpapar di lingkungan kerja.
Langkah vaksinasi ini diharapkan dapat memperkuat perlindungan tenaga kesehatan sekaligus mencegah potensi penularan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. (Redaksi)