Bonarinews.com, Maumere – Dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka menggelar kegiatan penghijauan dan penanaman pohon beringin di Sumber Mata Air Wairti, Dusun Watuturan, Kelurahan Hewuli, Kamis (6/11/2025).
Kegiatan bertema “Menanam Beringin, Menanam Kehidupan” ini diikuti oleh seluruh ASN Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Dharma Wanita Persatuan (DWP), pemerintah Kelurahan Hewuli, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Sejak pagi, para peserta tampak antusias menanam bibit beringin di area sekitar sumber air yang menjadi tumpuan hidup masyarakat setempat.
Acara ini menjadi simbol nyata kolaborasi antara ASN, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata pelaksanaan gerakan Ekoteologi—program nasional yang digagas Menteri Agama RI untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Yosef Rangga Kapodo: “Kita Tanam Beringin, Kita Tanam Kehidupan”
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Yosef Rangga Kapodo, S.S., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan berbagai pihak yang terlibat.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Lurah Hewuli, para tokoh masyarakat, ASN, dan DWP Kemenag Sikka yang sudah hadir. Ini bukan hanya kegiatan seremonial, tapi bentuk nyata amal bakti kita untuk menjaga alam ciptaan Tuhan,” ujarnya.
Yosef menjelaskan, dalam rangka HAB ke-80, pihaknya menyiapkan 100 anakan pohon beringin untuk ditanam di dua lokasi, yakni di Wairti dan Waigete. Kegiatan di Waigete dijadwalkan pada 12 Desember 2025 sebagai lanjutan dari program penghijauan ini.

Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan gerakan Ekoteologi Kementerian Agama RI. “Menanam pohon berarti menanam kesadaran dan tanggung jawab kepada alam. Kita tidak hanya menjaga bumi, tapi juga merawat kehidupan,” tegas Yosef.
Filosofi Pohon Beringin
Yosef juga menjelaskan alasan mengapa pohon beringin dipilih sebagai simbol dalam kegiatan penghijauan kali ini. Pohon beringin, katanya, memiliki sistem akar yang kuat dan luas sehingga mampu menyimpan cadangan air tanah, mencegah erosi, serta menjaga kualitas air.
“Secara ekologis, beringin memiliki manfaat besar untuk melestarikan mata air. Akar beringin bisa menahan air dan bahkan membantu munculnya sumber air baru,” ujarnya.
Selain itu, pohon beringin juga menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa dan tumbuhan kecil. “Di bawah rindangnya beringin, ada kehidupan yang saling menolong. Begitu pula manusia, seharusnya saling menjaga,” tambah Yosef dengan nada reflektif.
Kolaborasi Menjaga Alam
Kegiatan penanaman di Sumber Mata Air Wairti berlangsung penuh semangat. ASN, anggota DWP, dan warga saling bekerja sama menggali tanah dan menanam bibit pohon. Lurah Hewuli pun menyampaikan apresiasi kepada Kemenag Sikka atas inisiatif yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Sumber air Wairti adalah kehidupan kami. Dengan menanam beringin, berarti kami menjaga masa depan anak cucu kami,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Yosef Rangga Kapodo mengajak seluruh peserta untuk menjadikan penghijauan ini sebagai komitmen berkelanjutan. “Pohon yang kita tanam hari ini akan menjadi saksi bahwa kita pernah peduli. Mari terus jaga alam ini sebagai wujud amal bakti kita kepada bangsa dan Tuhan,” katanya.
Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama Kabupaten Sikka yang puncaknya akan digelar pada Januari 2026 mendatang. Dengan semangat kebersamaan, ASN Kemenag Sikka membuktikan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral kepada generasi mendatang. (Faidin)
