Jembatan Penghubung di Tapsel Putus! Brimob Turun Tangan Bangun Akses Darurat untuk Selamatkan Mobilitas Warga

Bagikan Artikel

Tapanuli Selatan, BonariNews.com – Kerusakan jembatan penghubung di pelosok Kabupaten Tapanuli Selatan kembali membuat aktivitas warga lumpuh. Namun kondisi itu tak berlangsung lama setelah satuan dari Korps Brimob Polri bergerak cepat membangun jembatan darurat di Desa Somanggal Parmonangan, Kecamatan Sayur Matinggi.

Pekerjaan darurat dilakukan pada 19 Februari 2026 oleh 12 personel Batalyon C di bawah komando Danton II Kompi 2/C IPDA Andrico P. Sembiring, S.H., dan diawasi langsung oleh Danyon C Zaenal Muhlisin. Mereka memanfaatkan material pohon pinang untuk merakit jembatan sepanjang 6 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 4 meter dari permukaan sungai.

Meski bersifat sementara, jembatan itu telah rampung seratus persen dan langsung bisa dilewati masyarakat. Kehadiran akses baru ini sangat berarti, mengingat sebelumnya warga terpaksa memutar sejauh 15 kilometer atau menambah waktu tempuh hingga 30 menit hanya untuk mencapai wilayah seberang desa.

Menurut Zaenal, jalur tersebut merupakan nadi kehidupan warga karena digunakan untuk aktivitas pertanian, distribusi hasil panen, hingga mobilitas antar kecamatan. Ia menegaskan bahwa Brimob hadir untuk memulihkan kelancaran akses warga secepat mungkin.

Jembatan darurat itu kembali menghubungkan Desa Somanggal Parmonangan dengan Kelurahan Panabari di Kecamatan Tantom—dua wilayah yang memiliki hubungan ekonomi erat. Selain membangun jembatan, personel Brimob juga berkoordinasi dengan perangkat desa, meminta warga menghindari jembatan lama yang sudah rusak demi mencegah kecelakaan.

Hasil pengecekan dan kebutuhan warga juga sudah dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan. Pemerintah daerah merespons positif dan berencana menurunkan alat berat untuk menangani perbaikan permanen dalam waktu dekat.

Warga yang sempat terisolasi kini mulai lega setelah akses penghubung kembali normal. Sinergi aparat dan masyarakat dalam pembangunan jembatan darurat ini menjadi bukti kuat pentingnya gotong royong untuk memastikan keselamatan dan kelancaran aktivitas di wilayah pelosok. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *