Medan, Bonarinews.com — Hiruk-pikuk Pasar Pringgan pagi itu sedikit berbeda. Di antara pedagang sayur, pembeli yang menawar, dan aroma rempah, muncul Wali Kota Medan Rico Waas. Ia datang bukan sekadar melihat, tapi memastikan satu hal sederhana: harga pangan tetap masuk akal menjelang Natal dan akhir tahun.
Akhir tahun biasanya identik dengan harga naik. Sayur, cabai, hingga ayam sering melonjak tanpa aba-aba. Karena itu Rico memilih turun langsung, ditemani beberapa pejabat terkait, untuk mengecek kondisi sebenarnya di lapangan.
Hasilnya, memang ada kenaikan, tapi masih kecil. Sayur-sayuran naik karena pasokan dari daerah penghasil menurun. Cabai tetap tinggi, meski lebih rendah dibanding beberapa minggu lalu. Ada dua jenis cabai di pasar, sehingga perbedaan harganya cukup terasa.
Sebagian besar kebutuhan pokok masih stabil. Telur aman. Daging sapi tidak bergerak jauh dari Rp125.000–Rp130.000 per kilogram. Minyak goreng bertahan di Rp16.000. Beras SPHP juga masih tersedia.
Yang jadi sorotan justru ayam. Dalam lima bulan, harganya sudah naik sekitar Rp35.000 per kilogram dan kini sampai ke angka Rp40.000. Rico meminta PUD Pasar tidak tinggal diam dan segera menyiapkan langkah untuk menahan kenaikan lebih lanjut.
Meski begitu, satu hal membuat Rico cukup lega: stok pangan Medan aman. Tidak ada tanda-tanda kekurangan.
Namun, ia tahu beban warga tetap ada. Karena itu, Pemko Medan akan menggelar pasar murah di berbagai titik. Tujuannya sederhana: warga bisa belanja kebutuhan pokok dengan harga yang lebih ramah dompet.
“Kami pantau terus. Kalau ada gejolak harga, pasti kami tindak,” ujarnya.
Dengan pemantauan rutin dan pasar murah, pemerintah ingin akhir tahun terasa hangat—bukan panik karena harga pangan melonjak. Wali kota datang ke pasar untuk memastikan itu berjalan. Karena harga yang stabil bukan hanya soal angka, tapi soal rasa aman bagi warga. (Redaksi)
