Jakarta, BonariNews.com — Campak bukan sekadar demam dan ruam kulit. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Anggraini Alam menegaskan, virus ini bisa menimbulkan komplikasi mematikan, mulai dari radang otak, kebutaan permanen, hingga kerusakan paru-paru berat.
Menurut Anggraini, persepsi bahwa campak penyakit ringan adalah kesalahan fatal. Virus campak menular sangat cepat, bahkan lebih cepat daripada varian Covid-19, dengan satu orang bisa menularkan ke 18 orang lainnya. Penularan terjadi melalui udara (airborne) dan bisa bertahan di udara lebih dari dua jam setelah penderita batuk, bersin, atau berbicara. Masa inkubasi yang bisa mencapai 3 minggu membuat penularan sulit terdeteksi sejak dini.
Komplikasi Serius Campak
1. Mata dan Kebutaan: Virus campak menggerus cadangan Vitamin A secara drastis. Jika tidak ditangani, kornea mata bisa menjadi kering dan berujung pada kebutaan permanen.
2. Radang Otak (SSPE): Risiko paling fatal menyasar sistem saraf pusat. Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE) bisa muncul bertahun-tahun setelah sembuh dari campak, bahkan hingga 23 tahun kemudian, menyebabkan kelumpuhan, gangguan prestasi sekolah, hingga kematian.
3. Paru-paru: Sekitar 77 persen anak penderita campak yang dirawat di rumah sakit mengalami komplikasi paru, dan 86 persen kematian akibat campak disebabkan oleh pneumonia.
4. Amnesia Imun: Campak dapat menghapus memori kekebalan tubuh, membuat anak menjadi rentan sakit dalam jangka panjang. Sistem imun yang seharusnya “latih” tubuh menghadapi penyakit ikut terkikis.
Anggraini menegaskan, satu-satunya cara mencegah badai komplikasi campak adalah imunisasi dengan cakupan tinggi minimal 94 persen, untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).
“Jangan mengatakan penyakit hanya campak, karena bisa menimbulkan kecacatan sampai meninggal,” tegasnya. (Redaksi)
