Isra’ Mi’raj: Jejak Perjalanan Spiritual yang Menyatukan Nilai Kemanusiaan

Bagikan Artikel

Oleh : Faidin

Di antara peristiwa paling monumental dalam sejarah peradaban manusia, Isra’ Mi’raj berdiri bukan sekadar sebagai kisah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, melainkan sebagai fondasi nilai moral dan kemanusiaan yang relevan lintas zaman, lintas iman, dan lintas budaya.

Peristiwa ini terjadi pada periode sulit dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Tekanan, penolakan, dan kehilangan orang-orang terdekat—termasuk wafatnya Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib—menjadi latar yang melingkupi perjalanan agung tersebut. Dalam kondisi manusiawi yang paling rapuh, hadir sebuah peristiwa ilahiah yang menguatkan misi kenabian sekaligus memulihkan harapan umat manusia.

Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, sebuah kota suci yang juga menjadi pusat spiritual bagi umat Yahudi dan Nasrani. Fakta ini menyiratkan pesan universal: bahwa ajaran Islam sejak awal berdialog dengan sejarah dan keyakinan agama-agama sebelumnya. Yerusalem bukan sekadar titik geografis, melainkan simbol persaudaraan iman dan perjumpaan peradaban.

Sementara itu, Mi’raj adalah perjalanan spiritual dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha—sebuah perjalanan melampaui ruang dan waktu, tempat Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat. Di sinilah nilai spiritual bertemu dengan tanggung jawab sosial. Salat tidak hanya dimaknai sebagai ritual, tetapi sebagai sarana pembentukan karakter: disiplin, kejujuran, kesetaraan, dan keadilan.

Dalam konteks kebangsaan Indonesia, nilai-nilai Isra’ Mi’raj menemukan relevansinya yang mendalam. Perjalanan Nabi dari bumi ke langit mengajarkan bahwa kemajuan rohani harus seiring dengan tanggung jawab kemanusiaan. Indonesia, sebagai bangsa yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, dan budaya, membutuhkan semangat ini: iman yang menumbuhkan empati, dan keyakinan yang melahirkan persatuan.

Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa kemajuan tidak lahir dari kekerasan, melainkan dari keteguhan moral. Di tengah dunia modern tahun 2026 yang dipenuhi krisis kepercayaan, polarisasi sosial, dan tantangan global, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati manusia terletak pada nilai-nilai luhur: saling menghormati, menjaga martabat sesama, dan merawat kehidupan bersama.

Lebih dari sekadar peristiwa keagamaan, Isra’ Mi’raj adalah warisan peradaban. Ia menegaskan bahwa agama hadir untuk mengangkat harkat manusia, bukan memecah belahnya. Bahwa perjalanan spiritual sejati selalu bermuara pada kepedulian sosial, keadilan, dan cinta kasih.

Di Indonesia, memperingati Isra’ Mi’raj berarti meneguhkan kembali komitmen kebangsaan: menjadikan iman sebagai sumber etika publik, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, dan menjadikan persatuan sebagai jalan menuju masa depan yang bermartabat.

Isra’ Mi’raj bukan hanya kisah masa lalu. Ia adalah pesan abadi tentang harapan—bahwa dari gelapnya cobaan, manusia selalu bisa menemukan cahaya, selama nilai kemanusiaan tetap dijaga dan persaudaraan terus dirawat.

Penulis adalah wartawan Bonarinews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *