Ironi Sektor Sawit: Kerja Ada, Masa Depan Tetap Sempit

Bagikan Artikel

Oleh: Angreni Enjeli Nadeak

Perkebunan kelapa sawit sering dianggap sebagai jawaban bagi persoalan ekonomi pedesaan. Kehadirannya dijual sebagai lapangan kerja, pendorong perputaran ekonomi lokal, dan harapan hidup bagi warga desa. Dalam banyak narasi pembangunan, sawit diposisikan sebagai sektor yang memberi masa depan.

Namun, di balik janji itu tersimpan ironi yang jarang disadari. Sawit memang menyediakan pekerjaan, tetapi tidak selalu membuka peluang masa depan. Ia memberi penghidupan, sekaligus membangun batasan bagi anak muda untuk bergerak melampaui kebun.

Ironi ini paling nyata terlihat pada pendidikan anak muda di wilayah penghasil sawit. Banyak yang berhenti di jenjang SMP atau SMA. Melanjutkan ke perguruan tinggi bukan sekadar soal kemauan, tetapi soal biaya, akses, dan jarak yang terbatas. Sekolah, dalam konteks ini, menjadi gerbang semu: bukan ruang memperluas kemungkinan, melainkan tahap awal sebelum masuk dunia kerja yang sudah ada.

Sektor sawit hadir sebagai pilihan paling logis. Bekerja di kebun, sebagai buruh atau mengelola kebun keluarga, terasa nyata dan aman. Kepastian kerja menjadi daya tarik utama, meskipun kesejahteraan tidak selalu meningkat. Anak muda memilih sawit bukan karena cita-cita, tetapi karena tidak ada banyak pilihan lain.

Inilah ironi terbesar: sawit memberi penghidupan, tetapi juga membatasi imajinasi. Dunia kerja seolah berhenti di sekitar kebun, sementara sektor lain terasa jauh dan asing. Sebagian anak muda tetap menganggur atau bekerja tidak tetap, tetapi pengangguran di pedesaan sering dipahami sebagai fase biasa, bukan persoalan struktural. Padahal, waktu tanpa arah mempersempit kepercayaan diri dan posisi mereka dalam masyarakat.

Pilihan hidup anak muda desa tidak pernah sepenuhnya bebas. Keputusan berhenti sekolah, bekerja di sawit, atau menganggur terbentuk dalam ruang yang sempit sejak awal. Struktur ekonomi dan keterbatasan akses lebih menentukan daripada kehendak individu. Sawit bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga struktur sosial yang mengatur ritme hidup dan membentuk batas-batas apa yang mungkin mereka capai.

Peran pemerintah seharusnya hadir untuk memperluas horizon hidup anak muda: akses pendidikan lanjutan, pelatihan keterampilan, dan ruang kerja alternatif di luar sawit. Namun, kenyataannya, intervensi negara sering terbatas pada administrasi atau bantuan sesaat. Ketergantungan terhadap sawit pun direproduksi dari generasi ke generasi.

Ironi sektor sawit jelas: kerja tersedia, tetapi masa depan tetap sempit. Anak muda desa tidak kekurangan tenaga, kemauan, atau daya tahan, tetapi kekurangan pilihan untuk melampaui apa yang sudah tersedia.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan sawit atau anak muda desa. Ia mengajak melihat realitas sektor sawit secara jujur: sumber hidup sekaligus batas. Memahami ironi ini adalah langkah awal membangun pandangan yang lebih adil, reflektif, dan solutif bagi generasi muda pedesaan.

Penulis adalah Mahasiswi Universitas Sumatra Utara (USU).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *