Jakarta, Bonarinews.com— Indonesia tengah bersiap untuk langkah revolusioner di dunia energi: pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama! Namun, menurut Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), keberhasilan proyek ini bukan hanya soal teknologi canggih, melainkan siap tidaknya SDM nuklir dan pengelolaan limbah radioaktif.
Plt Kepala BAPETEN, Zainal Arifin, mengungkap fakta mengejutkan: “Jumlah pengawas radiasi utama di BAPETEN saat ini hanya enam orang, dan sebagian akan segera pensiun. Tanpa transfer pengalaman dari ahli senior, PLTN Indonesia bisa menghadapi risiko serius!”
FGD bertema “Akselerasi Kesiapan SDM dan Kelembagaan Menyongsong Pembangunan PLTN Pertama” menekankan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tapi harus menjadi pengembang industri komponen nuklir dan bagian dari rantai pasok global.
Pembangunan PLTN melibatkan SDM lintas disiplin: dari geoteknik, metalurgi, termohidrolika, hingga proteksi fisik. Selain itu, pengelolaan limbah nuklir yang aman dan berkelanjutan menjadi fokus utama agar energi bersih tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat.
Zainal menegaskan, strategi nasional pengembangan SDM nuklir mencakup pendidikan tinggi, pelatihan intensif, sertifikasi kompetensi, hingga kerja sama internasional. Semua ini untuk memastikan Indonesia tidak hanya sekadar operator, tetapi */pengendali teknologi nuklir masa depan.
Dengan PLTN, Indonesia berpotensi capai net zero emission lebih cepat sekaligus membuka peluang besar di industri nuklir global. FGD ini diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat SDM dan koordinasi lintas lembaga, memastikan PLTN pertama Indonesia aman, bersih, dan berkelanjutan. (Redaksi)