MEDAN, Bonarinews.com — Sejumlah sekolah di kawasan Belawan dan Marelan, Kota Medan, kini menanamkan kesadaran lingkungan kepada siswa melalui program pengelolaan sampah berbasis sekolah yang dibina oleh Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan CDP. Program ini melibatkan siswa, guru, dan orang tua untuk membentuk kebiasaan hidup bersih sejak dini.
Di SDS Kusuma Zaitun Belawan, siswa terbiasa membawa botol minum sendiri dari rumah dan mencuci gelas atau cup bekas minuman setelah jam istirahat. Wadah bekas jajanan kemudian dikumpulkan untuk didaur ulang. Guru kelas 4, Yudith Hutahaean, mengatakan, “Anak-anak sekarang sudah terbiasa memilah sampah dan saling mengingatkan jika ada teman membuang sampah sembarangan.”
Selain sampah sekolah, siswa juga diajak membawa sampah dari rumah untuk disetor ke bank sampah. Hasil penjualannya digunakan untuk kegiatan siswa, seperti menambah kas kelas atau membantu biaya belajar.
Di SD Swasta HKBP Bersubsidi Belawan, Kepala Sekolah Serefiswan Rajagukguk membangun gudang sederhana untuk menampung sampah yang dikumpulkan siswa. Gudang ini dibangun dari hasil penjualan sampah sebelumnya.
“Setiap hari ada saja sampah yang dibawa anak-anak dari rumah, seperti kardus, kaleng susu, atau botol plastik. Semua kami timbang lalu disimpan di gudang,” ujarnya. Kesadaran siswa kini meningkat; mereka langsung memungut sampah yang terlihat tanpa harus diingatkan.

Sementara di SD Negeri 58 Belawan, Kepala Sekolah Uli Sinaga mengatakan pendekatan lebih sederhana namun konsisten. Setiap kelas disediakan kantong plastik besar dan galon bekas untuk menampung sampah yang kemudian dipilah dan dijual ke pengepul. “Meski hasil penjualannya tidak besar, yang penting anak-anak belajar memilah sampah dan memiliki kesadaran kebersihan,” jelasnya.
Program ini dibina oleh GNI Medan CDP, yang saat ini mendampingi 120 sekolah di Medan Belawan dan Medan Marelan. Project Fasilitator GNI, Nelli Lumbanbatu, menekankan pentingnya sekolah sebagai laboratorium perubahan perilaku. “Anak-anak yang belajar mengelola sampah di sekolah bisa membawa kebiasaan itu ke rumah dan menyampaikan kepada orang tua,” ujarnya.
GNI juga melatih guru agar materi pengelolaan sampah dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran, menjadikan kesadaran lingkungan sebagai bagian dari budaya belajar.
Program ini mendapat dukungan Dinas Pendidikan Kota Medan. Charles Manullang menilai program pengelolaan sampah berbasis sekolah sangat penting untuk membangun karakter siswa. “Program ini sangat bagus dalam meningkatkan karakter siswa terkait kebiasaan menjaga lingkungan, mengelola sampah di sekolah, serta membangun kebiasaan baik yang diterapkan juga di rumah,” pungkasnya.

Dengan langkah-langkah sederhana—memilah sampah, membawa botol minum sendiri, hingga mendaur ulang barang bekas—sekolah-sekolah di Belawan menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari tindakan kecil setiap hari. (*)
