
FLOTIM, BONARINEWS.COM – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Flores Timur secara tegas menolak kehadiran Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GMNI, Rysad Falefhy, dalam pembukaan Konferensi Daerah (Konferda) VII Dewan Pimpinan Daerah (DPD) GMNI Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–29 Januari 2026 di Aula Gedung Kwarda Pramuka Provinsi NTT, Kupang.
Penolakan tersebut disampaikan sebagai bentuk protes terbuka terhadap dualisme kepemimpinan di tubuh DPP GMNI yang dinilai telah mencederai marwah organisasi secara nasional dan berpotensi memperuncing konflik di tingkat daerah.
Ketua DPC GMNI Flores Timur, Krisantus Kenato, mempertanyakan legitimasi dan kapasitas Rysad Falefhy untuk membuka Konferda yang seharusnya menjadi ruang konsolidasi seluruh cabang GMNI se-NTT.
“Atas dasar apa Rysad Falefhy diagendakan hadir dan membuka Konferda GMNI NTT? Kita sama-sama mengetahui bahwa DPP GMNI saat ini berada dalam kondisi dualisme kepemimpinan, dan DPD GMNI NTT terdiri dari cabang-cabang yang tidak seluruhnya berada di bawah kepemimpinan Rysad Falefhy,” tegas Krisantus dalam rilis pers yang diterima media.
Menurutnya, Konferda merupakan momentum strategis bagi seluruh cabang GMNI di NTT untuk membicarakan keberlangsungan organisasi di tingkat daerah, bukan ajang legitimasi salah satu kubu kepemimpinan di tingkat pusat.
“Konferda GMNI NTT ini bukan Konferda GMNI NTT kubu Rysad Falefhy. Dengan kehadiran yang bersangkutan, justru berpotensi mempertajam perpecahan dan memperkeruh situasi organisasi di daerah. Karena itu, kami dengan tegas menolak kehadiran Rysad Falefhy,” lanjutnya.
Krisantus juga menyoroti sikap DPD GMNI NTT yang disebut-sebut mengundang Rysad Falefhy untuk membuka Konferda, meski forum tersebut mengusung tema persatuan.
“Kami menduga ada anomali. Di satu sisi Konferda mengusung tema ‘Dari Kesadaran Ideologis Menuju Persatuan Gerakan Kolektif Revolusioner’, tetapi di sisi lain justru mengundang salah satu kepengurusan DPP yang terlibat langsung dalam dualisme. Persatuan seperti apa yang ingin dibangun?” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa GMNI membutuhkan persatuan yang bersifat substansial, bukan persatuan semu yang justru berujung pada pembajakan organisasi demi kepentingan segelintir oknum.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Bidang Advokasi Kemasyarakatan DPC GMNI Flores Timur, Marianus F. Suba Mukin, menyatakan keprihatinan atas arah Konferda yang dinilai tidak inklusif.
“Bagaimana mungkin kita berbicara persatuan jika hanya satu kubu DPP yang diundang, sementara kepengurusan DPP GMNI saat ini masih dalam kondisi dualisme? Apakah tema persatuan itu hanya sekadar slogan?” kata Marianus.
Ia menegaskan bahwa Konferda VII DPD GMNI NTT bukan arena tanding kekuasaan, melainkan ruang musyawarah untuk memperkuat soliditas organisasi. Kehadiran Rysad Falefhy, menurutnya, berpotensi membuat cabang-cabang GMNI yang tidak berpihak pada kepemimpinan DPP tersebut merasa tidak diakui secara struktural di tingkat regional.
“Konferda GMNI NTT seharusnya menjadi patron persatuan, bahkan teladan bagi penyelesaian konflik di tingkat DPP. Bukan justru menjadi ajang unjuk kekuasaan yang memperpanjang perpecahan dan mencoreng marwah Konferda GMNI NTT,” tutup Marianus.(Redaksi)