Menpora Erick Thohir Ungkap Rencana Besar: Fasilitas Paralympic Training Center Harus Tetap Jadi yang Terbaik di Asia Tenggara!

Bagikan Artikel

Karanganyar, BonariNews.com – Langkah strategis kembali diambil oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, dalam upayanya menjaga kualitas sarana olahraga nasional. Saat meninjau Paralympic Training Center Indonesia di Karanganyar, Jawa Tengah, ia menegaskan perlunya terobosan baru dalam mekanisme pembiayaan dan perawatan fasilitas yang digadang-gadang sebagai salah satu yang terbaik di Asia Tenggara.

Dalam kunjungan tersebut, Erick Thohir menyoroti fakta bahwa pembangunan tahap pertama pusat pelatihan ini telah rampung. Namun tantangan besarnya justru datang setelah peresmian: bagaimana memastikan fasilitas megah ini tetap terawat, modern, dan berfungsi maksimal bagi para atlet difabel Indonesia.

Fasilitas yang berdiri di kawasan Desa Delingan, di kaki Gunung Lawu, itu berdiri di atas lahan lebih dari 80 ribu meter persegi. Di dalamnya terdapat bangunan pelatihan berstandar internasional, mulai dari gedung olahraga hingga asrama bertingkat yang mampu menampung ratusan atlet. Dengan kapasitas besar dan teknologi yang digunakan, perawatan rutin menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan.

Erick menegaskan bahwa pemerintah perlu membuka ruang bagi pihak ketiga melalui skema kerja sama yang fleksibel. Namun, ia mengingatkan bahwa komersialisasi hanya boleh dilakukan jika hasilnya dikembalikan untuk mendukung perawatan fasilitas. Tujuannya jelas: mencegah fasilitas modern ini bernasib sama seperti banyak sarana olahraga lainnya yang mangkrak karena perawatan yang tidak konsisten.

Dukungan juga diarahkan kepada NPC Indonesia, yang kini mengelola pusat pelatihan tersebut. Erick menyebut pemerintah siap memberi bantuan dana melalui mekanisme hibah, selama tata kelola administrasinya sesuai dengan payung hukum yang berlaku.

Upaya ini menunjukkan keseriusan pemerintah untuk memastikan bahwa fasilitas olahraga yang dibangun dengan investasi besar tidak hanya megah secara visual, tetapi juga berkelanjutan dan benar-benar menjadi rumah bagi lahirnya prestasi internasional. Dengan perawatan yang tepat, Indonesia bukan hanya mempertahankan gelar sebagai pemilik fasilitas paralympic terbaik di Asia Tenggara, tetapi juga mengukuhkan komitmen pada masa depan atlet disabilitas. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *