Oleh: Devilaria Damanik
Kejahatan seksual terhadap anak-anak adalah luka yang tak terlihat namun menganga. Tidak peduli usia, jenis kelamin, atau status sosial, anak-anak bisa menjadi korban—korban dari mereka yang seharusnya melindungi. Dunia diguncang ketika dokumen Epstein terbuka, memperlihatkan jaringan perdagangan manusia dan kekerasan seksual yang menargetkan anak-anak.
Hukum mungkin berhenti di satu titik ketika Epstein mengakhiri hidupnya di sel tahanan pada 10 Agustus 2019. Namun kebenaran tidak pernah mati. Cepat atau lambat, fakta akan muncul, mengungkap mereka yang selama ini menyembunyikan kejahatannya di balik uang, kekuasaan, dan popularitas.
Kasus ini menuntut kita bertanya: mengapa ada orang yang mengincar anak-anak? Jawabannya menyakitkan—anak-anak polos, yang masih bisa dibentuk, mudah dimanfaatkan. Lebih mengerikan lagi jika pelaku adalah orang kaya, terkenal, atau berkuasa. Hukum pun berjalan lambat, korban terbungkam, dan suara mereka bisa hilang ditelan kekuasaan.
Tetapi dokumen Epstein mengingatkan kita: tidak ada yang abadi. Bahkan setelah kematiannya, identitas pelaku lain terbuka. Kaum elit pedofilia tidak beraksi sendiri; mereka bergaul dengan sesama predator, saling menutupi dan memperkuat jaringan kegelapan itu.
Dunia memang tergila-gila pada kekayaan, popularitas, dan kekuasaan. Tapi beberapa orang terjerumus ke kenikmatan gelap yang paling keji—seks dengan anak-anak. Maka, pertanyaannya: di mana anak-anak bisa aman? Edukasi sejak dini penting, tapi kewaspadaan orang dewasa tidak boleh kendur. Pelaku bisa muncul di mana saja, kapan saja.
Pelajaran paling penting dari Epstein adalah ini: kita tidak boleh menunggu korban muncul di sekitar kita untuk bersuara. Setiap anak yang selamat dari predator adalah kemenangan kita bersama. Jangan biarkan bilangan korban bertambah. Semesta memiliki ritme sendiri; uang, popularitas, dan kekuasaan tidak bisa menahan kebenaran selamanya. Ketika waktunya tiba, rahasia gelap akan terbuka. Dan kebenaran akan menang. (*)
