Dua Nelayan Paga Ditemukan Selamat di Alor Diawali Sorotan Tajam Publik

Bagikan Artikel
Nelayan asal Desa Paga yang sempat hilang sementara menghubungi keluarga di Kabupaten Sikka.

SIKKA, BONARINEWS.COM – Setelah enam hari dinyatakan hilang dan memicu keresahan luas di Kabupaten Sikka, dua nelayan asal Desa Paga, Kecamatan Paga, akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat. Keduanya ditemukan oleh nelayan lokal di wilayah Kiraman, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, Sabtu (31/1/2026).

Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan, nelayan Kiraman yang sedang melaut melihat perahu korban terombang-ambing jauh dari jalur tangkapan biasa. Curiga dengan kondisi tersebut, mereka mendekat dan menemukan dua nelayan Paga dalam keadaan lemah di sekitar pesisir Kiraman.

Warga setempat kemudian memberikan pertolongan pertama berupa makanan dan tempat beristirahat.

Dalam dokumentasi yang diterima media, tampak kedua nelayan duduk bersama warga. Salah satu dari mereka terlihat memegang telepon genggam, diduga untuk menghubungi keluarga di Sikka guna mengabarkan bahwa mereka masih hidup.

Meski mengalami kelelahan berat akibat terpapar cuaca ekstrem di perairan Pantai Selatan Flores selama berhari-hari, kondisi fisik keduanya dilaporkan stabil.

Keduanya akan dipulangkan ke keluarga di Kabupaten Sikka pada besok, Minggu, (01/2).

Penemuan ini sekaligus menjawab kecemasan mendalam keluarga di Kecamatan Paga yang sejak awal mendesak pemerintah agar mengerahkan armada pencarian berskala besar, termasuk dukungan helikopter.

Desakan itu muncul seiring minimnya perkembangan berarti dalam proses pencarian selama beberapa hari pertama.

Sorotan publik sebelumnya kian tajam ketika penanganan kasus ini dibandingkan dengan tragedi tenggelamnya KM Putri Sakinah di perairan Labuan Bajo yang melibatkan warga negara asing (WNA) asal Spanyol. Dalam peristiwa tersebut, operasi pencarian dilakukan secara masif dan intensif selama berhari-hari, meski satu korban akhirnya tak ditemukan.

Sebaliknya, pada kasus hilangnya dua nelayan Paga—yang merupakan warga Kabupaten Sikka sendiri—upaya maksimal dinilai tidak terlihat.

Kunjungan Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi, ke rumah keluarga korban pada Rabu (28/1/2026) bahkan memicu kekecewaan warga. Kehadiran pejabat daerah itu dinilai lebih bersifat simbolik dan tidak diikuti langkah konkret di lapangan.

Perbandingan tersebut memunculkan pertanyaan yang menggelisahkan publik: apakah nyawa warga kecil tidak cukup bernilai untuk mendapatkan respons luar biasa dari negara?

Lambannya pengerahan armada udara disebut-sebut berkaitan dengan keterbatasan fasilitas serta birokrasi berbelit dalam pengajuan atau peminjaman helikopter—alasan yang bagi warga terdengar tidak manusiawi ketika waktu terus berjalan dan peluang menemukan korban semakin menyempit.

Ironisnya, di tengah keterbatasan peran negara, solidaritas warga justru bergerak cepat. Masyarakat Desa Paga menggalang dana secara swadaya, mengumpulkan uang receh demi membeli solar agar perahu nelayan lokal tetap bisa bergerak melakukan pencarian.

Meski kedua nelayan akhirnya ditemukan selamat, setidaknya peristiwa ini menjadi catatan serius. Tanpa evaluasi menyeluruh dan perbaikan sistem penanganan darurat laut, tragedi serupa berpotensi kembali terulang—dan sekali lagi rakyat kecil yang harus bertaruh nyawa.(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *