Bonarinews.com, Jakarta, – PT Alatan Asasta Indonesia (Alatan Indonesia), perusahaan konsultan, pelatihan, dan penelitian terkemuka di bidang kebijakan publik, pengadaan barang/jasa, dan perencanaan pembangunan, kembali menegaskan perannya sebagai katalis tata kelola pemerintahan yang unggul melalui Webinar Nasional bertajuk “Menyusun Cascading & Indikator Kinerja Renstra yang Efektif dan Terukur.”
Kegiatan yang digelar secara virtual ini diikuti oleh lebih dari 250 peserta dari kementerian, lembaga, pemerintah daerah, akademisi, dan sektor swasta di seluruh Indonesia.
Dari Strategi hingga Dampak Nyata
Harmada Sibuea, M.Sc., M.H., CEO Alatan Indonesia sekaligus pakar kebijakan publik dan perencanaan pembangunan, sebagai pembicara utama menekankan pentingnya keselarasan antara tujuan strategis organisasi dengan hasil pembangunan nasional.
“Banyak instansi memiliki indikator tinggi, tetapi tidak berkontribusi nyata pada capaian pembangunan. Cascading yang tepat memastikan setiap level organisasi bergerak serempak menuju tujuan bersama,” ujar Harmada (9/10/2025).
Dalam paparannya, Harmada menguraikan tiga level kinerja utama sesuai Permenpan RB No. 89/2021, yakni; Pertama, Strategic Objectives (Impact) – Dampak jangka panjang yang ingin dicapai organisasi.
Kedua, Tactical Objectives (Outcome) – Hasil langsung dari program atau kegiatan.
Ketiga, Operational Objectives (Output) – Keluaran konkret di tingkat operasional.
Ia juga menjelaskan lima tahapan penyusunan cascading kinerja, mulai dari penentuan ultimate outcome, identifikasi critical success factors (CSF), hingga penerjemahan ke dalam sasaran program dan kegiatan.
Webinar ini turut menyoroti pentingnya penerapan prinsip SMART – C dalam penetapan indikator kinerja, yakni: Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound, and Continuously Improving.
Melalui studi kasus dan diskusi interaktif, peserta mendalami perbedaan antara Indikator Kinerja Utama (IKU), Indikator Kinerja Program (IKP), dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK), serta membahas penyesuaian target Renstra akibat dinamika fiskal dan perubahan Dana Transfer ke Daerah (TKD).
“Kinerja yang baik bukan hanya soal angka tinggi, tetapi soal relevansi dan kontribusi terhadap hasil pembangunan. Itulah mengapa indikator harus disusun dengan cerdas, kolaboratif, dan berorientasi hasil,” tegas Harmada.
Dorong Kolaborasi dan Kapasitas Aparatur
Sesi interaktif webinar juga menjadi wadah berbagi praktik terbaik antarinstansi. Peserta mendiskusikan tantangan implementasi cascading di lapangan, termasuk penyelarasan target lintas unit dan integrasi perencanaan dengan evaluasi kinerja.
“Kami ingin setiap peserta tidak hanya memahami konsep, tapi juga siap
menerapkannya secara kolaboratif dan berdampak,” tambah Harmada.
Webinar ditutup dengan ajakan untuk memperkuat alignment antarinstansi dalam penyusunan Renstra K/L/PD 2025–2029, sebagai bagian dari percepatan transformasi tata kelola pemerintahan di Indonesia. (Redaksi)
