Oleh: Devilaria Damanik
Pagi di Karera Jangga selalu dimulai dengan satu kepastian yang tak pasti: apakah hari itu ada air. Sebelum memikirkan rencana mengajar atau menulis, langkah pertama yang harus dipastikan adalah mengisi dirigen—jika aliran dari bukit tidak sedang berhenti. Jika tidak mengalir, hari seakan tertahan sejak awal.
Di tempat ini, waktu berjalan pelan, tetapi kebutuhan hidup terasa lebih mendesak.
Saya datang ke Sumba Timur dengan harapan yang sederhana: menemukan ruang sunyi untuk menulis. Lanskapnya menjanjikan itu. Bukit-bukit hijau membentang seperti gelombang yang tak pernah selesai, suara jangkrik menjadi pengantar malam, dan udara dingin membuat kipas angin tak lagi diperlukan. Semuanya tampak seperti tempat ideal untuk menumbuhkan kata-kata.
Pada minggu-minggu awal, keyakinan itu terasa begitu dekat. Saya membayangkan cerpen demi cerpen lahir dari kesunyian ini, bahkan mungkin sebuah novel. Namun, keyakinan itu perlahan bergeser, bukan karena ide yang menghilang, melainkan karena kenyataan yang datang bertubi-tubi.
Listrik belum menjangkau desa ini. Jaringan seluler pun nyaris tak ada. Air bersih menjadi sesuatu yang harus diupayakan setiap hari. Bersama seorang teman, saya berjalan membawa dirigen menuju rumah warga yang memiliki selang air dari bukit. Itu pun tidak selalu mengalir. Ketika air berhenti, kami hanya bisa menunggu—atau berharap hujan turun.
Untuk mandi dan mencuci, ada selang lain yang mengalirkan air langsung dari sungai ke rumah-rumah warga. Tetapi aliran itu juga tidak menentu. Dalam kondisi seperti ini, hal-hal yang sebelumnya sederhana berubah menjadi persoalan utama. Tubuh dan pikiran sama-sama diuji.
Pada satu titik, keinginan untuk pergi muncul begitu kuat. Terutama ketika tubuh tidak dalam kondisi prima, ketika kebutuhan dasar terasa semakin sulit dijangkau. Namun, keinginan itu berhadapan dengan kenyataan lain: keterbatasan finansial, tanggung jawab yang belum selesai, dan pilihan yang telah diambil.
Bertahan, akhirnya, bukan lagi soal keberanian, melainkan keniscayaan.
Saya mencoba mencari cara lain untuk menyesuaikan diri. Meminjam sepeda motor warga, saya pergi ke sungai. Di sana, air mengalir tanpa jeda, dan untuk sesaat, segala kesulitan terasa menjauh. Ada kebebasan yang sederhana di sana—mencuci, mandi, dan membiarkan waktu berlalu tanpa beban.
Keterasingan juga membawa kejenuhan. Tanpa jaringan, tanpa banyak aktivitas, hari-hari terasa sunyi dengan cara yang berbeda. Saya sempat ingin mendaki bukit untuk mencari sinyal, tetapi harapan itu pupus. Tidak ada titik yang memungkinkan. Dalam kebosanan itu, saya menemukan ritme baru: memelihara hewan, merawat sesuatu yang hidup, agar hari-hari tidak sepenuhnya kosong.
Pelan-pelan, saya belajar menerima bahwa tempat ini tidak hadir untuk memenuhi harapan saya, melainkan untuk menguji sejauh mana saya bisa menyesuaikan diri.
Karera Jangga, yang kelak direncanakan menjadi bagian dari desa baru bernama Nara, menyimpan ironi yang tak mudah diabaikan. Di satu sisi, negara memiliki cita-cita besar tentang keadilan sosial dan kesejahteraan. Di sisi lain, hal-hal mendasar seperti air bersih, listrik, dan jaringan komunikasi masih belum sepenuhnya tersedia.
Namun, di tengah keterbatasan itu, secercah kemajuan tetap terasa. Panel surya menerangi malam di rumah tempat saya tinggal. Di sekolah, tersedia layar pintar dan jaringan wifi yang bisa diakses ketika genset dinyalakan. Suara mesin genset menjadi bunyi yang paling ditunggu setiap hari—tanda bahwa dunia luar kembali terjangkau, meski hanya untuk beberapa waktu.
Di ruang kelas, saya berdiri di hadapan anak-anak dengan kesadaran yang semakin jernih: pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga ketahanan. Saya tidak selalu tampil sebagai sosok yang kuat. Ada kalanya kelelahan dan emosi lain ikut hadir. Namun, mungkin justru di situlah pendidikan menemukan wajahnya yang paling manusiawi.
Saya tidak sedang melakukan sesuatu yang besar. Saya hanya mengajar, membaca, dan mencoba menanamkan mimpi-mimpi kecil. Tentang kemungkinan, tentang masa depan, tentang keyakinan bahwa mereka lahir bukan untuk tinggal dalam batas yang sempit.
Entah mimpi itu kelak tumbuh atau tidak, saya tidak sepenuhnya tahu.
Yang saya pahami, di tempat seperti ini, bertahan adalah bentuk lain dari harapan. Bukan harapan yang riuh, melainkan yang bekerja diam-diam—seperti air yang mengalir dari bukit, kadang terhenti, tetapi selalu dicari.
Dan mungkin, di situlah makna tinggal menemukan bentuknya: bukan pada kenyamanan, melainkan pada kesediaan untuk tetap ada, meski segala sesuatu belum sepenuhnya tersedia. (*)