MALANG, BONARINEWS.COM – Fenomena alam menakjubkan tengah terjadi di Tulungagung, Jawa Timur. Desa Bungur yang biasanya tenang, kini ramai dikunjungi “tamu istimewa” dari belahan bumi utara: ribuan burung migran asal Rusia dan China.
Kawasan persawahan yang subur di Desa Bungur menjadi titik persinggahan favorit burung-burung ini dalam perjalanan panjangnya menempuh ribuan kilometer untuk menghindari musim dingin ekstrem di negara asal mereka. Para burung migran menggunakan kemampuan navigasi alami layaknya GPS biologis, memungkinkan mereka menemukan jalur migrasi tetap dari generasi ke generasi.
Persawahan Subur Jadi “Hotel Bintang Lima” Burung Migran
Persawahan Desa Bungur menyediakan pasokan makanan melimpah, mulai dari serangga hingga biota air kecil, yang menjadi sumber energi penting bagi burung setelah menempuh perjalanan jauh. Menurut pantauan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, setidaknya tujuh spesies burung migran tercatat singgah di lokasi ini, termasuk Trinil Semak, Trinil Pantai, dan Layang-Layang Asia.
Fenomena ini menjadi peluang edukasi bagi pecinta alam, mahasiswa, dan akademisi. Tim BBKSDA Jatim rutin memantau populasi dan perilaku burung, sekaligus meneliti interaksi mereka dengan ekosistem persawahan. Aktivitas ini membuka wawasan baru tentang bagaimana ekosistem lokal mendukung kelestarian biodiversitas global.
Desa Bungur dan Pentingnya Konservasi Alam
Kehadiran burung migran di Desa Bungur membuktikan peran vital alam Indonesia sebagai “rumah aman” bagi berbagai spesies selama musim dingin. Sebagai negara tropis yang subur, Indonesia menjadi destinasi strategis untuk memastikan kelangsungan hidup satwa migran dari berbagai belahan dunia.
Para ahli lingkungan menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekologi lokal agar fenomena migrasi burung tetap berlangsung dan memberikan manfaat edukatif serta ekowisata. Desa Bungur kini bisa menjadi tujuan wisata birdwatching yang menarik bagi wisatawan lokal dan mancanegara.
Fenomena Migrasi Burung dan Peluang Wisata Alam
Fenomena migrasi ribuan burung dari Rusia dan China ini bukan hanya menakjubkan secara visual, tapi juga membuka peluang ekonomi dan edukasi. Desa Bungur bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata alam, sekaligus laboratorium hidup bagi pelajar dan akademisi yang ingin mempelajari ekosistem, konservasi burung, dan biodiversitas. (Redaksi)
