Bonarinews.com, Medan – Yayasan Rumah Ceria Medan (YRCM) hadir sebagai sekolah inklusif yang menjadi wadah pemberdayaan anak-anak disabilitas di Kota Medan. Didirikan oleh Yuli Yanika (Uye), mahasiswa pendidikan yang memiliki kepedulian mendalam terhadap dunia disabilitas, YRCM lahir dari pengalaman dan empati Uye terhadap anak-anak berkebutuhan khusus sejak kecil.
Perjalanan Uye dimulai pada 2013 saat mengajar di sekolah alam, di mana ia menyadari adanya kesenjangan komunikasi antara anak disabilitas dan anak normal. Dari keprihatinan itu, ia mendirikan sanggar kreativitas yang menyediakan kelas tari, fotografi, dan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan rasa percaya diri anak-anak disabilitas.
Pada 2019, Yayasan Rumah Ceria Medan resmi berdiri untuk memberikan ruang belajar yang lebih aman dan komprehensif. Sekolah ini tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pendidikan karakter, empati, dan kemandirian. YRCM membuka peluang belajar bagi anak disabilitas maupun non-disabilitas dengan bahasa isyarat sebagai bahasa utama, menciptakan kesetaraan dalam komunikasi.
Selain pendidikan, YRCM menjalankan berbagai program pemberdayaan, termasuk:
- Program pendidikan berbasis inklusi
- Pendampingan disabilitas di masyarakat
- Program Tuli Mengaji
- Kemah inklusif untuk membangun kemandirian
- Edukasi seksual melalui “Tumbuh Tanpa Rasa Takut”
- Pengenalan Artificial Intelligence (AI) bagi remaja disabilitas
Yayasan bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Pengadilan Tinggi Medan untuk memberikan perlindungan hukum bagi anak-anak dan keluarga mereka. Saat ini, YRCM memiliki tujuh pengajar dan seorang psikolog yang aktif mendampingi siswa, memastikan setiap anak memperoleh perhatian penuh dan kesempatan berkembang.
Uye menegaskan, “Saya ingin anak-anak disabilitas hidup berdampingan dengan masyarakat tanpa dibedakan. Mereka bisa mandiri asalkan ada dukungan dan orang yang percaya pada mereka.”
Kini, Rumah Ceria Medan menjadi simbol inklusivitas dan harapan di Kota Medan. Sekolah ini bukan hanya tempat belajar bagi anak disabilitas, tetapi juga ruang di mana masyarakat belajar menghargai arti kemanusiaan. (*)
Penulis: Grace Estephania
