Sibolga, Bonarinews.com — Perjalanan tim Bid Humas Polda Sumut ke Sibolga pada Minggu pagi seharusnya menjadi tugas rutin: mendokumentasikan kondisi lapangan, mengumpulkan informasi, dan memetakan akses yang terputus akibat banjir dan longsor. Namun rute yang mereka tempuh pelan-pelan mengubah perjalanan itu menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar tugas peliputan.
Mereka berangkat dengan satu mobil double cabin yang membawa beberapa karung beras, dus mie instan, telur, serta air mineral. Jumlahnya memang tak banyak, tetapi setidaknya bisa menjadi penopang sementara bagi warga yang sudah berhari-hari menunggu bantuan besar yang belum bisa masuk karena jalan putus. Tidak ada yang membayangkan bahwa perjalanan mereka justru akan menjadi rangkaian aksi kemanusiaan.
Begitu memasuki jalur menuju Sibolga, situasi berubah drastis. Aspal yang biasanya padat kendaraan kini terputus di banyak titik. Tebing-tebing yang longsor menutup jalan. Sejumlah warga terlihat berdiri kebingungan di tengah rute yang tak lagi bisa dilewati. Di titik tertentu, material tanah bercampur batu menutup hampir seluruh ruas jalan, memaksa siapa pun yang lewat berhenti dan mencari cara untuk melintas.
Di sinilah tim Bid Humas sadar bahwa mereka tidak bisa sekadar lewat sambil merekam gambar. Mereka turun dari kendaraan, bergotong-royong dengan warga membersihkan longsor seadanya. Sekop tidak ada, sehingga banyak dari mereka bekerja dengan tangan kosong. Yang satu mendorong motor warga yang tak bisa naik, yang lain membantu ibu-ibu menyeberang bagian jalan yang licin. Kamera yang tadinya disiapkan untuk meliput bencana, hari itu lebih sering digantung di leher sementara mereka mengangkat bebatuan.
Lelah? Pasti. Tapi mereka tahu banyak warga lebih lelah dari mereka—ada yang sudah dua hari tidak bisa turun ke kota membeli kebutuhan pokok, ada pula yang membawa anak kecil menyusuri jalan berbahaya karena tidak ada pilihan lain. Di momen seperti itu, batas antara “petugas” dan “warga terdampak” melebur menjadi rasa kemanusiaan yang sama.
Bantuan yang mereka bawa akhirnya sampai ke titik pengungsian di Sibolga. Tidak banyak, tetapi cukup untuk memberi sedikit kelegaan. Sementara itu, bantuan berskala besar masih tertahan karena jalur darat belum pulih. Kendaraan besar tidak bisa lewat, sehingga hanya mobil kecil seperti double cabin yang dapat menyusup di sela-sela akses darurat.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, menyebut apa yang dilakukan timnya sebagai refleksi sederhana tentang bagaimana tugas kepolisian bisa berubah bentuk di tengah bencana. Mereka berangkat sebagai petugas penerangan, tetapi sampai sebagai relawan kemanusiaan. Tidak ada instruksi khusus—situasilah yang memaksa mereka untuk turun langsung membantu.
Menurut Ferry, jalan menuju Tapteng dan Sibolga masih berbahaya. Longsor masih terjadi di beberapa titik, sinyal komunikasi masih sering hilang, dan kendaraan besar belum bisa memasuki wilayah bencana. Tetapi upaya tetap dilakukan, sedikit demi sedikit, dengan kendaraan kecil yang sanggup melewati jalur sempit dan licin.
Perjalanan ini mungkin tidak akan terdengar besar dibandingkan operasi besar lainnya. Namun di tengah bencana, kepedulian kecil seperti inilah yang sering menjadi penyambung harapan. Tim Bid Humas Polda Sumut tidak sedang membawa ribuan ton logistik, tetapi mereka membawa sesuatu yang sama pentingnya: kehadiran. Bahwa warga tidak sendirian menghadapi masa sulit ini.
Dalam situasi darurat, setiap tangan yang turun membantu bisa menjadi pembeda. Dan hari itu, di sepanjang jalur longsor menuju Sibolga, Humas Polda Sumut menunjukkan bahwa tugas mereka tidak hanya menyampaikan berita—tetapi juga menjadi bagian dari kabar baik bagi mereka yang membutuhkan. (Redaksi)
