Medan, BonariNews.com – Di sebuah sudut permukiman padat di Belawan, berdiri beberapa Posyandu di kelurahan Belawan Bahagia — bangunan kecil yang setiap bulan dipenuhi ibu-ibu untuk menimbang balita. Namun sejak 2025, posyandu-posyandu ini memiliki wajah baru. Fungsinya tidak lagi sebatas pemeriksaan kesehatan, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan pengumpulan sampah terpilah.
Pada setiap hari layanan, ibu-ibu datang sambil membawa botol plastik, kertas bekas, kardus, hingga besi tua. Sampah itu ditimbang, dicatat, lalu ditabung sebagai saldo rekening di Bank Sampah Berkah Belawan. Dalam enam bulan, Posyandu-posyandu di Kelurahan Belawan Bahagia berhasil mengumpulkan ratusan kilogram botol plastik dan kardus, sekaligus mengedukasi ratusan warga mengenai pemilahan sampah. Transformasi ini lahir dari kolaborasi antara kader posyandu, fasilitator Gugah Nurani Indonesia Medan CDP, dan Bank Sampah Berkah Belawan—mewujudkan model pengelolaan sampah yang murah, dekat, dan berkelanjutan.
Pengalaman itulah yang dipaparkan Desima Manik, dalam Pelatihan Menulis Praktik Baik yang digelar GNI Medan CDP pada Rabu, 25 Februari 2026. Desima merupakan salah satu Fasilitator Pengelolaan Sampah Posyandu untuk kelurahan Belawan Bahagia.
Pelatihan menulis bertema “Menulis Dampak, Menggerakkan Perubahan” itu berlangsung di Foresthree Marelan Kafe dan menghadirkan Dedy Hutajulu, jurnalis sekaligus penulis buku, sebagai pelatih utama. Pelatihan hari itu diikuti 18 kader posyandu dari Belawan dan Marelan. Sehari sebelumnya, sekitar 20 fasilitator sekolah juga telah mengikuti pelatihan serupa. Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme.
Desima menuturkan, sebelum program pengelolaan sampah hadir, lingkungan Belawan Bahari masih bergulat dengan persoalan klasik. Banyak warga membakar sampah di halaman rumah, membuang plastik ke parit, atau membiarkan sampah menumpuk di sudut gang. Tempat pembuangan resmi dan akses menuju bank sampah masih jauh.

“Kalau mau buang sampah, jauh kali tempatnya. Makanya dibakar saja,” ujar seorang ibu rumah tangga yang mengingat masa sebelum program dimulai.
Di tengah kondisi itu, posyandu menjadi fasilitas publik paling dekat dengan warga. Setiap bulan, ratusan warga datang tanpa perlu diundang. Fasilitator GNI melihat momentum ini dan mengajukan gagasan sederhana: bagaimana jika posyandu tidak hanya menjaga kesehatan balita, tetapi juga menyehatkan lingkungan?
Keikutsertaan para kader posyandu dalam program ini muncul dari panggilan hati. Fitri, salah satu kader, mengatakan bahwa sejak sebelum program dimulai, para kader sudah terbiasa memberi penyuluhan kepada masyarakat. Ketika program pengelolaan sampah hadir, upaya mereka seperti menyambut peluang baru.
Selain menjalankan tugas sosial, para kader juga merasa lebih dipercaya masyarakat. Mereka lebih sering diminta menjadi tim penyuluh kesehatan dan memperoleh tambahan honor. “Kerjanya mungkin terlihat remeh, tetapi hasilnya lumayan dan kami senang melakukannya,” kata Fitriani, kader posyandu lainnya.
Di antara para kader, salah satu sosok yang menonjol: Dessi Afriani Nasution, yang kerap dipanggil warga dengan sebutan “Ibu Sampah”. Julukan itu bukan ejekan, melainkan penghargaan atas kegigihannya mengampanyekan pemilahan sampah. “Ada juga beban mentalnya. Kalau program ini gagal, rasanya malu. Tapi begitulah dinamika,” ujar Dessi. Baginya, perubahan tidak selalu terlihat cepat. “Apa yang kita kerjakan hari ini, mungkin baru berbuah di masa depan.”
Project Manager GNI Medan CDP, Anwar Suhut, menekankan pentingnya mendokumentasikan perubahan-perubahan kecil tersebut. “Hal-hal baik yang sudah dikerjakan ibu-ibu ini harus dituliskan. Jika tidak ditulis, perubahan itu tidak akan diketahui wali kota, camat, atau dinas kesehatan. Kita perlu mendokumentasikannya agar menjadi inspirasi lebih luas,” kata Anwar. Ia menambahkan, GNI berencana menyusun buku berisi praktik baik dari para kader, dan nama para kader akan dicantumkan sebagai kontributor.
Desima Manik, ibu lima anak, mengaku menemukan pengalaman baru dalam pelatihan tersebut. Ia merasa lebih mudah menuliskan apa yang selama ini hanya ia pikirkan. “Materinya mudah dicerna dan menambah wawasan. Saya jadi mengerti tata cara menulis cerita. Kami juga diberi template untuk mengidentifikasi fakta lapangan yang harus dikumpulkan,” ujarnya.
Setelah mengisi template itu, Desima merasa lebih jelas mengenai inti cerita yang ingin ia sampaikan. Yang paling menarik, kata dia, cara penyampaian pelatihnya sederhana dan mudah dimengerti. “Saya jadi tertarik menulis. Meskipun sibuk mengurus lima anak, setelah pelatihan ini saya akan mencoba menuliskan praktik baik,” janjinya.
Transformasi Posyandu Belawan Bahagia menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil dan tempat yang dekat dengan warga. Dari menimbang balita hingga menimbang sampah, posyandu kini menjadi ruang yang tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menjaga lingkungan. Perubahan ini lahir dari kerja sama, kepedulian, dan kemauan untuk mencoba hal baru. Dan seperti disampaikan para kader, mungkin tidak semua hasil terlihat hari ini. Tetapi di masa depan, jejak perubahan itu bisa menjadi inspirasi bagi banyak komunitas lainnya. (Redaksi)
