Cerita Dibalik Bencana, Anak Perempuan yang Tersesat di Sibolga Kembali ke Pelukan Orangtuanya

Bagikan Artikel

Tapteng, Bonarinews.com — Banjir dan longsor yang melanda Sibolga dan Tapanuli Tengah memicu kepanikan dan kecemasan masyarakat. Di tengah situasi bencana itu, seorang anak perempuan bernama Cindi Natalia Telambanua, sembilan tahun, tersesat saat bermain dengan teman-temannya di Desa Muara Nibung, Hajoran, Sabtu (29/11/2025).

Cindi kebingungan tak tau arah jalan pulang. Rasa takut bercampur cemas menghantuinya. Ia tidak tahu harus ke mana. Setiap langkah membuatnya semakin panik.

Beruntung, petugas Polsek Sambas, Kota Sibolga, saat itu sedang berpatroli untuk mencari korban-korban bencana. Melihat Cindi kebingungan, polisi segera menghampirinya, lalu membawanya ke Posko Tanggap Darurat Bencana Polres Sibolga.

Di posko, meskipun masih turun hujan, Cindi merasa aman di tangan polisi. Ia duduk di tikar, diberi makanan dan minuman, serta didampingi agar tidak takut. Petugas juga segera menghubungi orang tua Cindi untuk memastikan ia bisa kembali ke rumah.

Beberapa jam terasa lama bagi Cindi dan orangtuanya. Di luar posko, keluarga berlari-lari mencari anak mereka dengan panik. Petugas bekerja tanpa henti, menenangkan Cindi dan memastikan ia tetap aman.

Akhirnya, dini hari Minggu, 30 November 2025, telepon yang ditunggu-tunggu tersambung. Cindi dipertemukan kembali dengan orangtuanya. Sang ibu memeluk putrinya erat, menahan tangis yang menumpuk selama berjam-jam, sementara sang ayah berdiri di samping, mata berkaca-kaca.

“Kami sangat bersyukur. Terima kasih Pak Polisi, sekarang anak kami kembali dengan selamat,” ucapnya dengan suara bergetar.

Momen itu mengubah suasana posko. Kecemasan dan kelelahan petugas sejenak hilang, digantikan lega dan haru. Cindi tersenyum malu, merasa aman, dan dunia di sekelilingnya terasa kembali normal.

Cerita Cindi bukan hanya tentang seorang anak yang hilang dan kembali. Ia menunjukkan betapa pentingnya kepedulian, koordinasi, dan respons cepat saat bencana. Polisi hadir bukan sekadar menegakkan hukum, tetapi sebagai pelindung bagi yang paling rentan. Sementara itu, orang tua dan masyarakat diingatkan untuk tetap memperhatikan anak-anak di tengah situasi darurat.

Di tengah hujan, banjir, dan longsor, pelukan Cindi dengan orang tuanya menjadi simbol sederhana tapi kuat: bahwa di saat sulit, kepedulian dan kerja sama bisa menghadirkan rasa aman dan harapan nyata. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *