Medan, BonariNews.com – Memasuki hari ke-11 pelaksanaan Operasi Keselamatan Toba 2026 yang berlangsung sejak 2 Februari, Polda Sumatera Utara mencatat tren positif dalam upaya membangun budaya tertib berlalu lintas di wilayahnya. Pendekatan edukatif, preventif, serta penegakan hukum berbasis teknologi dinilai berkontribusi signifikan terhadap menurunnya angka pelanggaran di jalan raya.
Berdasarkan data per Kamis (12/2/2026), jumlah penindakan pelanggaran lalu lintas tercatat sebanyak 1.423 kasus. Angka ini menurun 57,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 3.329 kasus. Penurunan itu menjadi indikator meningkatnya kepatuhan dan kesadaran masyarakat selama operasi berlangsung.
Sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) menunjukkan peningkatan penindakan dari 91 kasus pada 2025 menjadi 334 kasus pada 2026. Optimalisasi ETLE ini dinilai memperkuat penegakan hukum yang lebih transparan dan akuntabel.
Sebaliknya, penindakan non-ETLE turun drastis menjadi 74 kasus dari 975 kasus pada tahun sebelumnya. Jumlah teguran kepada pelanggar juga menurun dari 2.263 menjadi 983 teguran.
Selain itu, petugas turut menindak lima kendaraan pribadi yang beroperasi sebagai travel ilegal tanpa izin, serta 27 kendaraan over dimension and over loading (ODOL) yang dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan pengguna jalan lainnya.
Secara kumulatif sejak hari pertama hingga hari ke-11, total penindakan mencapai 12.090 tindakan. Terdiri atas 2.026 tilang ETLE, 678 non-ETLE, 9.248 teguran, 22 penindakan travel ilegal, dan 116 penindakan terhadap kendaraan ODOL.
Kabid Humas Polda Sumatera Utara menyampaikan bahwa capaian positif ini tidak lepas dari masifnya kegiatan edukasi, penyuluhan, kampanye keselamatan, serta kehadiran petugas di titik-titik rawan pelanggaran dan kecelakaan.
“Operasi ini tidak semata-mata soal penindakan, tetapi bagaimana membangun kesadaran kolektif masyarakat. Penurunan pelanggaran hingga lebih dari 57 persen menjadi bukti bahwa pendekatan humanis dan edukatif mulai membuahkan hasil,” ujarnya.
Ia menegaskan, peningkatan penggunaan ETLE merupakan bagian dari transformasi penegakan hukum yang modern dan presisi.
“Kami mengajak masyarakat Sumatera Utara untuk menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama. Tertib berlalu lintas bukan hanya kewajiban hukum, tetapi kebutuhan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain,” tambahnya.
Dengan tren hingga hari ke-11, Operasi Keselamatan Toba 2026 dinilai berjalan konstruktif, menggabungkan edukasi, pengawasan, dan penegakan hukum secara seimbang demi menciptakan situasi lalu lintas yang aman, tertib, dan lancar di wilayah Sumatera Utara. (Redaksi)
