Cibinong, BonariNews.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional menghadirkan terobosan pupuk hayati berbasis mikroba yang dikembangkan khusus untuk tiap lokasi, mampu meningkatkan produktivitas bawang merah hingga lebih dari 25 persen. Inovasi ini diungkap dalam webinar HortiActive #24 di Cibinong, Rabu (25/2/2026), sebagai solusi menghadapi lahan yang semakin berkurang kesuburannya.
Menurut Puji Lestari, teknik tanam yang baik saja tidak cukup. Nutrisi tanah harus dikelola secara tepat. “Dengan pupuk hayati, penggunaan pupuk kimia bisa berkurang hingga 25 persen, tetap ramah lingkungan, dan hasil panen meningkat,” ujarnya.
Dwinita Wikan Utami menambahkan, pupuk hayati ini sangat efektif di lahan dataran tinggi atau tanah Andisol, yang menyerap fosfor dengan sangat tinggi sehingga tanaman sulit menyerap nutrisi penting.
Peneliti Agustina E. Br. Marpaung menjelaskan, bakteri dan jamur dari akar bawang merah bisa melarutkan fosfor agar tersedia bagi tanaman. Mikroba ini dikembangkan menjadi pupuk hayati dengan media dedak dan ampas kelapa, salah satunya menggunakan jamur Aspergillus. Hasilnya, fosfor yang tersedia meningkat, pertumbuhan bawang merah lebih optimal, dan penggunaan pupuk fosfor kimia bisa ditekan hingga 50 persen.
Arranggi Soemardjan menekankan, pertanian berbasis mikroba adalah kunci menuju pertanian berkelanjutan, yang mampu menjaga hasil panen sekaligus ramah lingkungan. BRIN berharap riset ini bisa segera diadopsi oleh petani, industri, dan pemerintah, demi produksi sayuran yang lebih tinggi dan berkelanjutan tanpa terlalu bergantung pada pupuk kimia.
Dengan inovasi ini, masa depan pertanian Indonesia bisa lebih produktif, efisien, dan hijau, membuka peluang ketahanan pangan yang lebih kuat. (Redaksi)
