Perkuat Talenta Nasional, BRIN Buka Akses Pendanaan dan Kolaborasi Riset di KST B.J. Habibie

Bagikan Artikel

Tangerang Selatan, BonariNews.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmennya memperkuat pengembangan talenta riset Indonesia melalui beragam skema pendanaan, program mobilitas, dan kolaborasi lintas sektor.

Pesan ini mengemuka dalam Talkshow Program dan Pendanaan Riset dan Inovasi yang digelar di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie Serpong, Rabu, 4 Februari 2026. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Professor Susumu Kitagawa, Nobel Laureate Lecture.

Deputi Sumber Daya Manusia Iptek (SDMI) BRIN, Prof. Edy Giri Rachman Putra, menekankan bahwa manajemen talenta nasional merupakan fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan riset Indonesia.

“Manajemen talenta nasional menjadi kunci agar Indonesia tidak kehilangan talenta terbaiknya. BRIN hadir memastikan talenta riset, baik di dalam negeri maupun diaspora, tetap terhubung dan berkontribusi,” ujar Edy.

Ia menjelaskan, program pengembangan talenta BRIN meliputi peningkatan kapasitas, mobilitas peneliti, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi, industri, dan lembaga riset global. Ekosistem ini dirancang agar peneliti, dosen, mahasiswa, hingga postdoctoral researcher dapat berkembang secara optimal.

6.000 Judul Riset Didukung BRIN

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, memaparkan berbagai skema pendanaan riset yang dikelola BRIN. Ia menyebut lebih dari 6.000 judul riset telah dibiayai melalui skema kompetitif, strategis nasional, hingga kolaborasi internasional.

Skema pendanaan yang ditawarkan mencakup:

  • Riset kompetitif (bottom-up) untuk mendorong ide inovatif para peneliti.
  • Riset inovasi berbasis industri, termasuk penguatan startup teknologi.
  • Riset inovasi strategis yang diarahkan untuk menjawab isu nasional seperti energi, kesehatan, dan teknologi maju.
  • Kolaborasi pendanaan internasional bersama lembaga riset dan funding agency luar negeri.

Arthur menekankan pentingnya memilih skema yang tepat, membangun jejaring lintas sektor, serta memanfaatkan infrastruktur riset nasional untuk meningkatkan daya saing proposal.

Riset Harus Menjawab Tantangan Bangsa

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Fauzan Adziman, menegaskan bahwa riset Indonesia harus diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat dan industri.

“Riset ke depan harus mampu menjawab kebutuhan bangsa. Pemerintah mendorong riset strategis yang didukung fasilitas nasional agar dampaknya langsung dirasakan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan laboratorium, fasilitas uji, dan pusat unggulan nasional secara kolaboratif agar hasil riset dapat diimplementasikan dengan cepat.

Kolaborasi Lintas Disiplin Jadi Kunci

Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM), Ratno Nuryadi, menyatakan kesiapan ORNM untuk membuka kolaborasi seluas-luasnya.

“ORNM terbuka untuk kolaborasi lintas disiplin dan institusi. Harapannya, riset material dan nanoteknologi semakin berkontribusi pada daya saing nasional,” kata Ratno.

Ia menilai forum seperti talkshow ini penting untuk mempertemukan peneliti, pembuat kebijakan, dan mitra industri guna membangun kolaborasi riset yang berkelanjutan.

Perkuat Ekosistem Riset Nasional

Talkshow ini digelar oleh Deputi SDMI, Direktorat Fasilitasi Riset dan Inovasi (DFRI), serta ORNM. Forum ini menjadi ajang dialog strategis untuk memperkenalkan program dukungan BRIN, memperluas jejaring kolaborasi, serta mendorong pemanfaatan fasilitas riset nasional secara optimal.

BRIN berharap kegiatan ini dapat menjadi pintu masuk bagi peneliti dan mitra industri untuk memanfaatkan peluang pendanaan dan kolaborasi dalam menghasilkan inovasi yang berdampak nyata bagi pembangunan Indonesia. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *