Semarang, BONARINEWS – Upaya memperkuat riset dan inovasi di Jawa Tengah memasuki fase baru. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Tengah sepakat mempercepat pembangunan Rumah Inovasi Daerah (RID), sebuah pusat kolaborasi riset yang ditargetkan meluncur setelah Ramadhan tahun ini.
Dalam koordinasi yang digelar Kamis (29/1), Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Yopi, menegaskan bahwa riset harus menghasilkan manfaat nyata. Tidak hanya sekadar publikasi, tetapi berdampak langsung pada masyarakat, pemerintah daerah, hingga level rumah tangga.
“Riset itu bukan berhenti di jurnal. Harus produktif dan akuntabel, serta memberikan efek langsung bagi pembangunan di daerah,” ujar Yopi.
Riset Melimpah, Dampak Masih Terbatas
Kepala BRIDA Jawa Tengah, Muhammad Arif Irwanto, menilai potensi riset di daerahnya sangat besar. Dengan sekitar 250 perguruan tinggi—sembilan negeri dan ratusan swasta—setiap tahun ribuan penelitian lahir. Namun, tidak semuanya memberi efek signifikan bagi pembangunan.
Karena itu, pembangunan Rumah Inovasi Daerah di Kawasan Saintek Pucang Gading, Demak, menjadi strategis. RID diharapkan menjadi titik temu periset, industri, pemerintah daerah, dan masyarakat.
“Kami optimistis, dalam periode 2026–2030 Jawa Tengah memiliki pusat inovasi yang mampu mengubah hasil riset menjadi dampak nyata bagi publik,” kata Arif.
Dampak yang dimaksud meliputi peningkatan kesejahteraan, penurunan kemiskinan, penguatan ekosistem inovasi, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
RID sebagai Simpul Inovasi Daerah
Hiskia, dari Direktorat Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, menjelaskan bahwa Rumah Inovasi Daerah akan menjadi instrumen kebijakan untuk mengorkestrasi inovasi. Fungsinya mencakup etalase inovasi, pusat informasi, wadah kolaborasi, hingga layanan satu pintu untuk menghubungkan riset dengan kebutuhan industri dan pemerintah.
“Rumah Inovasi Daerah membantu memastikan inovasi benar-benar dimanfaatkan dan menghasilkan dampak bagi ekonomi dan pelayanan publik,” tuturnya.
Adhi Putranto, pemateri dari BRIN, menambahkan bahwa pembangunan RID harus selaras dengan visi pembangunan Jawa Tengah menuju Indonesia Emas 2045. Potensi sektor unggulan—industri pengolahan, perdagangan, pertanian, kehutanan, dan perikanan—perlu dihilirisasi agar dampaknya lebih besar.
Selaras dengan Arah Pembangunan Jawa Tengah
Sekretaris BRIDA Jawa Tengah, Joko Mulyono, memaparkan arah kebijakan pembangunan daerah 2026–2030. Tahun 2026 akan menjadi pijakan awal penguatan fondasi pembangunan, dilanjutkan peningkatan kinerja pada 2027, percepatan pada 2028, pemantapan pada 2029, hingga pencapaian visi besar pada 2030.
Jawa Tengah akan menekankan lumbung pangan nasional pada 2026, pengembangan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah di 2027, penguatan ekonomi desa dan industri hijau pada 2028, peningkatan daya saing pada 2029, hingga pencapaian provinsi maju dan berkelanjutan di tahun 2030.
Riset Harus Bisa Diukur Manfaatnya
Ketua PPI Jawa Tengah sekaligus periset BRIN, Turnad Lenggo Ginta, menyoroti pentingnya riset yang manfaat ekonominya bisa dihitung. Menurutnya, riset di bidang energi, pangan, dan pertanian relatif mudah diukur dampaknya, namun riset sosial budaya juga tak kalah penting.
“Contohnya, di Jepang ada riset yang menghasilkan media edukasi sederhana yang mampu menurunkan angka pelecehan terhadap perempuan. Dampaknya sangat nyata,” ujarnya.
Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Wiwiek Joelijani, menekankan perlunya pemetaan tema riset unggulan untuk mendukung Kawasan Sains dan Teknologi Pucang Gading. Ia menilai riset champion harus berkelanjutan, terutama di sektor energi, pangan, pertanian, peternakan, perikanan, hingga sosial budaya.
Ia berharap hasil riset BRIN dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat Jawa Tengah—baik di perkotaan maupun pedesaan—dan kemudian direplikasi di provinsi lain. (Redaksi)
