Oleh: Jelita Gistifa Situmorang
Fasilitas pedestrian yang kurang memadai tidak jadi penghalang bagi masyarakat yang tinggal di kota untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas berjalan kaki. Terlebih dengan berjalan kaki kita dapat membantu pemerintah dalam mengawasi infrastruktur dan lebih memperhatikan saudara kita yang membutuhkan.
Kecelakaan yang menimpa seorang pengendara ojol di Pandeglang menjadi perhatian publik. Karena rusaknya infrastruktur jalan, seorang penumpang harus kehilangan nyawanya. Merujuk pada berita dari DetikNews, pengendara yang bernama Al Amin yang sebelumnya sempat mengajukan tuntutan pada Pemkab dan Pemprov Banten dengan sejumlah denda yang cukup besar. Adapun dana dari tuntutan itu akan digunakannya untuk memperbaiki jalan.
Isu jalanan rusak di Indonesia memang sudah ada sejak lama. Tidak hanya infrastruktur transportasi yang mengalami masalah tetapi juga infrastruktur pedestrian. Untuk hal ini, Indonesia telah lama dikenal sebagai negara yang tidak ramah kepada pejalan kaki. Fasilitas umum seperti trotoar belum dibangun secara merata dan semestinya. Seperti berita yang terdapat pada DetikSumut, trotoar rusak yang berada di jalan Guru Patimpus, Kesawan, bahkan tak kunjung diperbaiki setelah 5 tahun.
Sebagai pejalan kaki di kota, saya memang merasakan kondisi trotoar yang memprihatinkan. Kerap kali terdapat pohon yang begitu besar di tengah trotoar. Bahkan di beberapa titik, trotoar sama sekali tidak layak digunakan karena ubinnya pecah dan terangkat oleh akar pohon.
Meski demikian, kondisi infrastruktur pedestrian yang mengkhawatirkan di kota Medan tidak menghalangi saya untuk terus berjalan. Saya menganggap keterbatasan fasilitas sebagai sebuah tantangan untuk memilih dan menentukan keputusan yang paling baik sesuai dengan kondisi yang saya hadapi. Tentu hal itu melatih kognitivitas karena tiap rute punya tantangan tersendiri.
Berjalan adalah aktivitas yang paling sederhana dan sangat mudah diakses dibandingkan aktivitas lainnya. Kita sudah mempelajari cara berjalan bahkan saat masih belia kita telah menjadikan berjalan sebagai aktivitas paling mendasar. Walaupun berjalan adalah kegiatan sederhana tetapi memiliki begitu banyak manfaat terlebih untuk lansia. Dilangsir dari The Nutrition Source salah satu website di bawah naungan Harvard, para lansia yang berusia rerata 72 tahun, ketika rutin berjalan sebanyak 4.400 langkah sehari memiliki angka kematian 41% lebih rendah dibandingkan orang yang hanya berjalan 2.700 langkah per hari. Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah langkah penting jika ingin mendapatkan manfaat yang maksimal dari berjalan.
Dalam salah satu studi Jama network, disampaikan bahwa orang dewasa berjalan 7.000 langkah per hari sudah cukup untuk mengurangi kemungkinan terkena tekanan darah tinggi dan mengurangi angka kematian sebesar 50%-70%. Kita bisa mendapatkan manfaat yang begitu besar hanya jika aktivitas berjalan rutin dilakukan.
Sayangnya, di era digitalisasi seperti sekarang, kita merasa “bisa” bersosialisasi bahkan dari dalam kamar. Orang-orang juga terlalu bergantung pada kendaraan roda dua untuk jarak yang sangat pendek, yang sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan kaki dalam waktu kurang dari 5 atau 10 menit. Fenomena ini sangat mengkhawatirkan. Padahal, data WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2019 saja, jumlah orang yang mengalami hipertensi sudah mencapai 1,3 miliar. Seharusnya data dari WHO tersebut telah menjadi peringatan terhadap kita. Terutama untuk anak muda agar tetap bergerak aktif, karena kegiatan sederhana seperti berjalan saja dapat membantu meminimalkan kemungkinan seseorang terkena hipertensi di kemudian hari.
Aktivitas berjalan dapat dilakukan di mana saja, seperti di rumah menggunakan treadmill, di pedesaan dengan udara sejuk dan pemandangan alam yang asri, serta di kota dengan fasilitas trotoar. Sebuah kota terbentuk dari berbagai budaya dan memiliki interaksi sosial masyarakat yang beragam. Hal ini membuat kota menjadi tempat yang sangat cocok untuk kegiatan berjalan. Terlebih kota Medan yang memiliki banyak corak kebudayaan baik dari penduduk asli seperti Melayu di area Istana Maimun dan pendatang seperti India Tamil di Kampung Madras atau biasa disebut little india. Kegiatan berjalan menjadi modal dasar kita untuk mengeksplorasi lingkungan yang beragam seperti Medan. Mengeksplorasi kota dengan berjalan membuat kita lebih memperhatikan tempat-tempat yang berada di pinggir jalan. Hal yang biasa kita lewatkan begitu saja ketika mengelilingi kota dengan kendaraan. Walaupun saat ini teknologi begitu maju sehingga kita bisa mencari tempat yang kita butuhkan hanya dengan melihat aplikasi Maps. Akan tetapi, keadaan lapangan sering kali berbeda dengan tampilan di Google Maps karena aplikasi itu tidak mengupdate perubahan kecil setiap saat.
Berjalan kaki juga membuat kita dapat berwisata kuliner. Sering kali kuliner UMKM dengan cita rasa etnis yang khas justru tidak terdaftar di Google Maps. Selain menemukan hidden gem makanan, bagi mahasiswa sosial seperti saya berjalan juga membantu saya menemukan hidden gem organisasi masyarakat. Hal tersebut tentu mempermudah saya dalam mengerjakan tugas perkuliahan. Jikalau area perdesaan menawarkan pemandangan yang asri, maka kota hadir dengan berbagai bangunan yang modern dan unik. Tidak hanya bangunan untuk perputaran ekonomi yang dibuat megah, tempat tinggal juga tidak kalah indahnya. Rumah bukan hanya sekadar tempat berteduh tetapi juga sebagai cerminan budaya dari pemilik rumah dengan maksud dan tujuan tersendiri. Tugas saya sebagai pejalan kaki tentu saja menikmati keindahan yang ditunjukkan oleh pemilik bangunan tersebut. Melihat berbagai bentuk desain dan pemilihan warna memberikan inspirasi bagi saya ketika hendak membangun rumah saya suatu saat nanti.
Walaupun berjalan adalah kegiatan sederhana, kita tetap harus menyiapkan diri sebelum melakukannya. Terlebih di kota Medan yang memiliki suhu dan kelembapan yang tinggi. Berdasarkan data dari WeatherSpark suhu di Medan pada Maret 2026 berada di kategori hot dan kelembapan yang berada pada kategori miserable. Berjalan di situasi tersebut pasti terasa menyiksa. Kabar baiknya pada pagi hari sebelum jam 9 pagi, suhu di Medan berada di kategori warm. Berdasarkan data tersebut sebaiknya kegiatan berjalan di kota Medan dilakukan pada pagi hari. Tetapi saya sendiri bukan jenis morning person. Karena itu walaupun panas, saya tetap memilih berjalan di sore hari. Untuk mengatasi masalah tersebut saya lebih memperhatikan pemilihan bentuk dan jenis kain pada pakaian saya. Pakaian yang ketat dan tertutup terutama yang terbuat dari bahan polyester dapat menimbulkan biang keringat. Terlebih untuk pemilihan sepatu dan kaos kaki, karena kaki sebagai penggerak utama sebaiknya memakai sepatu yang ringan dan nyaman serta kaos kaki yang menyerap keringat agar tidak terasa licin saat melangkah. Sunblock juga menjadi barang wajib untuk menjaga kulit dari ganasnya sinar UV. Selain dari luar kita juga sebaiknya menjaga tubuh dari dalam, saya sarankan membawa botol minum saat berjalan untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi. Adapun barang opsional lainnya yaitu powerbank jika kamu mengandalkan Google Maps dan alat perlindungan diri seperti semprotan merica. Saat berada di ruang publik terlebih tempat asing, kita akan bertemu dengan beragam karakteristik manusia jadi ada baiknya kita tetap waspada. Jika kamu berjalan di kota sebaiknya menghindari trotoar yang tertutup mobil dan pohon besar, karena kurangnya fasilitas penunjang pedestrian kadangkala selokan di samping trotoar menjadi toilet darurat bagi sebagian orang. Kita tentu tidak ingin pengalaman berjalan kita berharga menjadi pengalaman buruk.
Dengan melakukan kegiatan berjalan di kota, selain mendapatkan berbagai manfaat bagi diri kita sendiri, kita juga bisa membantu orang lain melalui kegiatan ini terutama bagi pelaku UMKM. Kita dapat memanfaatkan fitur Local Guides di Google Maps untuk mengunggah foto penjual baru yang sebelumnya belum terdaftar. Hal ini membantu penjual dalam digital branding sekaligus memudahkan pembeli lain. Fitur ini juga memungkinkan kita memperbarui informasi jalan yang salah atau sudah berubah, sehingga pengguna lain dapat merasa lebih nyaman. Saat berjalan, kita dapat memperhatikan kondisi ubin pemandu karena pemasangannya masih terlihat asal-asalan. Di beberapa titik pemberhentian terdapat parit, di tengah perjalanan muncul besi yang menonjol, dan beberapa ubin hilang, keadaan tersebut sangat membahayakan bagi saudara kita yang tunanetra. Padahal mereka juga berhak menggunakan fasilitas publik dengan nyaman. Sebagai warga yang peduli, kita dapat ikut mengawasi fasilitas publik. Kita sebagai pejalan kaki juga dapat membantu pemerintah melaksanakan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 45 ayat 1 dan pasal 131 dengan melaporkan fasilitas yang rusak atau tidak memadai melalui website SP4N Lapor. Dengan demikian, kita tidak hanya menjaga fasilitas publik tetapi juga berperan dalam mewujudkan fasilitas yang lebih baik bagi masyarakat.
Hanya dengan berjalan kaki, kita sungguh menikmati kekayaan, sumber kesegaran jiwa dan raga kita
Penulis adalah mahasiswi Prodi S-1 Antropologi Sosial, FISIP, Universitas Sumatera Utara