SUMUT, BONARINEWS.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau dan melaporkan perkembangan penanganan bencana hidrometeorologi basah yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara hingga Sabtu, 17 Januari 2026. Fokus utama penanganan saat ini tidak hanya pada keselamatan warga terdampak, tetapi juga pada percepatan pemulihan agar masyarakat dapat segera kembali menjalani kehidupan secara lebih normal.
Dalam laporan terkininya, BNPB mencatat adanya penambahan korban meninggal dunia. Total korban jiwa akibat rangkaian bencana di tiga provinsi tersebut kini mencapai 1.199 orang. Sementara itu, jumlah korban hilang tidak mengalami perubahan dan tetap tercatat sebanyak 144 orang. Penambahan satu korban meninggal dilaporkan berasal dari Kabupaten Aceh Timur. Adapun jumlah warga yang masih mengungsi mencapai 154.973 jiwa, tersebar di berbagai lokasi pengungsian.
Di lapangan, upaya pemulihan dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi. Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, dan unsur terkait lainnya mempercepat pembangunan hunian sementara, membersihkan akses jalan dan jembatan, serta menata kembali kawasan permukiman yang terdampak parah. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang kembali aman dan layak dihuni.
Distribusi bantuan logistik juga terus digencarkan. Sejak 29 November 2025 hingga 16 Januari 2026, total bantuan yang berhasil disalurkan mencapai 1.754,03 ton. Bantuan tersebut dikirim melalui berbagai jalur, baik udara, darat, maupun laut. Pengiriman dilakukan menggunakan pesawat carter BNPB dan pesawat Hercules, truk logistik, serta kapal laut untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses.
Pada distribusi terakhir, Provinsi Aceh menerima bantuan melalui sembilan sorti penerbangan dengan muatan 7,3 ton serta empat truk darat seberat 9,4 ton. Sumatra Utara menerima pasokan logistik terbesar melalui jalur darat dengan total 93,33 ton, sementara Sumatra Barat menerima bantuan 0,1 ton melalui jalur darat.
Di sektor perumahan, BNPB mendorong percepatan pembangunan hunian sementara dengan target penyelesaian sebelum Ramadan. Dari total 49.919 unit rumah yang rusak berat, pengajuan pembangunan hunian sementara telah mencapai 27.903 unit. Saat ini, 5.788 unit masih dalam tahap pembangunan dan 782 unit telah selesai dibangun serta siap dihuni. Selain itu, pengajuan hunian tetap tercatat sebanyak 11.706 unit, dengan 648 unit di antaranya sudah memasuki tahap konstruksi.
Untuk membantu warga selama masa transisi menuju hunian tetap, skema Dana Tunggu Hunian terus dioptimalkan. Hingga pertengahan Januari 2026, bantuan ini telah diajukan oleh 15.346 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, 10.717 rekening penerima telah siap, dan dana telah disalurkan kepada 2.695 kepala keluarga.
Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana susulan, BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah terdampak. Hingga 16 Januari 2026, operasi di Aceh telah dilakukan sebanyak 480 sorti dengan total bahan semai mencapai 459.200 kilogram. Di Sumatra Utara, operasi dilaksanakan sebanyak 372 sorti dengan total bahan semai 326.400 kilogram. Sementara di Sumatra Barat, tercatat 396 sorti dengan penggunaan bahan semai 393.325 kilogram. Operasi ini bertujuan mengendalikan intensitas curah hujan di wilayah rawan bencana.
BNPB menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, serta masyarakat. Dengan sinergi yang terjaga, percepatan pemulihan infrastruktur dasar, pemenuhan hunian layak, serta penguatan mitigasi diharapkan mampu mengembalikan kehidupan masyarakat terdampak secara bertahap menuju kondisi yang lebih aman dan tangguh di masa depan. (Redaksi)
