Bencana Berulang, Pemerintah Tancap Gas Bangun Jembatan Darurat di Sumut—Target Selesai Sebelum Maret!

Bagikan Artikel

MEDAN, BonariNews.com — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mempercepat pembangunan jembatan di wilayah terdampak banjir untuk memulihkan konektivitas dan memastikan distribusi logistik tidak terhenti. Langkah cepat ini diambil setelah banjir susulan pada 11 dan 16 Februari kembali merusak salah satu jembatan yang hampir selesai dibangun.

Dalam konferensi pers di Kantor Gubernur Sumut, Asisten Pemerintahan dan Kesra Basarin Yunus Tanjung menjelaskan bahwa dari 10 jembatan yang dikerjakan bersama TNI, delapan telah rampung.

“Satu jembatan kembali bergeser akibat banjir susulan, tetapi akan segera kita perbaiki. Percepatan ini penting agar warga mendapat akses normal kembali,” ujarnya.

Basarin, yang juga Ketua Harian Satgas Penanganan Darurat Bencana Sumut, menegaskan, wilayah akses terbatas bukan berarti terisolasi total. Jalan masih dapat dilewati sepeda motor dan pejalan kaki, namun kendaraan roda empat hanya bisa melintas setelah jembatan dan badan jalan selesai dikerjakan.

Berdasarkan laporan terbaru Posko Darurat, dua kabupaten yang memiliki akses terdampak paling parah adalah Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Di Taput, wilayah terdampak mencakup Kecamatan Sipaholon dan Parmonangan, meliputi Desa Rura Julu Tomuan, Pertengahan, Huta Tua, dan Huta Julu Parbalik.
Di Tapteng, kendala akses terjadi di Kecamatan Tukka dan Sibabangun, pada Desa Saur Manggita, Sait Kalangan Dua, Sigiring-giring, dan Sibio-bio.

Jenis jembatan yang dibangun adalah jembatan rampo berbahan dasar besi dengan plat dinding dan timbunan tanah. Material disuplai Pemprov, sementara alat berat disediakan TNI.

“Kalau cuaca bersahabat, kita targetkan pekerjaan selesai bulan Maret,” jelas Basarin.

Untuk mengurangi risiko banjir susulan, pemerintah juga menggelar operasi modifikasi cuaca pada 18–21 Februari, dilakukan dari Bandara Silangit dan Bandara Kualanamu.

Di kesempatan yang sama, Basarin turut merilis data terkini: total warga terdampak mencapai 479.047 KK atau 1.803.725 jiwa, dengan 909 KK (3.506 jiwa) masih mengungsi. Sebanyak 376 orang meninggal, empat luka-luka, dan 40 lainnya masih hilang. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *