Oleh : Elfrida Saragih*)
Bencana alam yang berulang kali melanda Sumatera Utara seperti banjir bandang, tanah longsor, serta degradasi lingkungan bukan lagi peristiwa insidental, melainkan pola yang berulang. Dalam beberapa tahun terakhir, laporan resmi pemerintah dan pemberitaan media nasional menunjukkan bahwa Sumatera Utara termasuk salah satu provinsi dengan frekuensi bencana hidrometeorologi yang tinggi.
Banjir dan longsor mendominasi, terutama di wilayah dengan tekanan ekologis yang besar. Tragedi banjir bandang di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang, longsor di kawasan Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, serta menurunnya kualitas ekosistem Danau Toba memperlihatkan bahwa bencana tidak hanya dipicu oleh faktor alamiah, tetapi juga oleh kerentanan lingkungan yang meningkat.
Data kehutanan menunjukkan, alih fungsi lahan dan degradasi daerah aliran sungai di Sumatera Utara terus berlangsung, sementara kapasitas lingkungan semakin terbatas. Fakta empiris ini menegaskan bahwa bencana adalah persoalan struktural, bukan semata takdir alam.
Dalam tradisi teologi Kristen Reformed, realitas ini tidak dapat dijelaskan dengan logika hukuman ilahi yang sederhana. Yohanes Calvin dengan tegas menolak upaya manusia untuk menafsirkan kehendak Allah secara spekulatif dan menghakimi korban penderitaan. Allah memang berdaulat atas ciptaan, tetapi kedaulatan itu selalu disertai kebijaksanaan dan keadilan yang melampaui penilaian moral manusia yang sempit.
Namun, teologi Reformed juga kritis terhadap kelalaian manusia. Abraham Kuyper menyatakan, tidak ada sejengkal pun dari kehidupan yang berada di luar kedaulatan Kristus. Prinsip ini memiliki implikasi etis yang kuat: pengelolaan alam adalah bagian dari tanggung jawab iman. Ketika data menunjukkan penyempitan daerah resapan air, meningkatnya sedimentasi sungai, dan kerusakan hutan lindung di kawasan Bukit Barisan, bencana yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari kegagalan manusia menjalankan penatalayanan ciptaan.
Mandat budaya dalam Kejadian 1:28 dan 2:15 menegaskan bahwa manusia dipanggil untuk “mengusahakan dan memelihara” bumi. Dalam perspektif Reformed, mandat ini bersifat normatif dan berkelanjutan. Kerusakan ekologis yang memperparah banjir dan longsor di Sumatera Utara merupakan tanda bahwa mandat tersebut sering diabaikan demi kepentingan ekonomi jangka pendek. Di titik ini, bencana alam menjadi cermin krisis spiritual dan moral. Kerusakan Danau Toba memberi contoh konkret. Berbagai kajian akademik menunjukkan meningkatnya beban pencemaran dan tekanan ekologis terhadap danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara ini.
Dampaknya tidak hanya ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi, terutama bagi masyarakat lokal yang bergantung pada danau sebagai sumber kehidupan. Dalam terang Roma 8:19-22, ciptaan yang “mengeluh” bukanlah metafora abstrak, melainkan realitas konkret dari alam yang terluka oleh ketidakseimbangan relasi manusia.
Teologi Reformed juga menegaskan, Allah hadir di tengah penderitaan. Ratapan 3:22-23 menyatakan, kasih setia Tuhan tidak berkesudahan-sebuah pengakuan iman yang lahir dari kehancuran, bukan dari kenyamanan. Kehadiran Allah menjadi nyata bukan terutama melalui penjelasan teoretis, tetapi melalui solidaritas: relawan yang menolong korban banjir, lembaga pendidikan yang membangun kesadaran mitigasi bencana, serta gereja yang berpihak pada kelompok rentan.
Karena itu, respons iman terhadap bencana alam di Sumatera Utara tidak boleh berhenti pada doa dan simpati simbolik. Gereja dan institusi pendidikan Kristen dipanggil untuk mengambil peran profetis: mengintegrasikan teologi ciptaan dalam pendidikan iman, mendorong kebijakan publik yang berkeadilan ekologis, serta membentuk kesadaran bahwa iman Kristen menyentuh cara manusia memperlakukan alam.
Iman yang hidup, menurut Yakobus, selalu terwujud dalam tindakan nyata. Bencana alam mengingatkan manusia akan keterbatasannya, tetapi juga membuka ruang pertobatan ekologis dan pembaruan tanggung jawab bersama.
Dalam terang teologi Reformed, harapan Kristen tidak lahir dari penyangkalan penderitaan, melainkan dari kesediaan untuk hidup setia sebagai penatalayan ciptaan Allah-dengan iman yang berpikir, peduli, dan bertindak demi keberlanjutan kehidupan.
Bencana alam di Sumatera Utara seharusnya menjadi alarm moral yang tidak lagi diabaikan. Iman Kristen, khususnya dalam tradisi Reformed, menolak sikap pasif dan fatalistik. Kedaulatan Allah bukan alasan untuk berdiam diri, melainkan dasar untuk bertindak dengan tanggung jawab. Gereja, akademisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat sipil dipanggil untuk keluar dari zona nyaman: menata ulang relasi dengan alam, menegakkan keadilan ekologis, dan memastikan pembangunan berjalan seiring dengan keberlanjutan ciptaan.
Harapan Kristen tidak menunggu dunia yang pulih secara ajaib, tetapi bekerja dengan setia di tengah dunia yang terluka. Di situlah iman diuji-bukan dalam kata-kata, melainkan dalam keberanian mengambil tanggung jawab demi masa depan bersama.
*) Penulis adalah Dosen Teologi dan Filsafat di Universitas Pelita Harapan (UPH) Kampus Medan
