Oleh: Arthur Geoff Pascal, Bryan Lucas, dan Alrend Charis
Stres kini menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Tekanan akademik, tuntutan pekerjaan, serta dinamika relasi sosial membuat remaja dan dewasa awal kerap merasa kewalahan, sering kali tanpa bekal keterampilan untuk mengelolanya. Di tengah realitas tersebut, upaya menjaga kesehatan mental tidak selalu harus dimulai dari ruang klinis atau forum besar. Lingkungan terdekat justru dapat menjadi titik awal yang efektif.
Kesadaran inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan kegiatan psikoedukasi bertema manajemen stres di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat. Kegiatan yang berlangsung pada 28 November 2025 di Kos Puri Asano ini melibatkan remaja dan dewasa awal yang tinggal di lingkungan tersebut. Selama sekitar satu hingga satu setengah jam, peserta diajak memahami stres secara lebih jernih sekaligus mempelajari cara-cara praktis untuk mengelolanya dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu temuan penting dari kegiatan ini adalah masih terbatasnya pemahaman masyarakat tentang stres. Banyak peserta menganggap stres semata-mata sebagai kondisi negatif yang harus dihindari. Padahal, tidak semua stres bersifat merusak. Melalui psikoedukasi, peserta diperkenalkan pada perbedaan antara stres yang dapat memicu pertumbuhan dan stres yang justru melemahkan. Pemahaman ini membantu peserta mengenali sinyal stres lebih awal, sebelum berkembang menjadi masalah psikologis yang lebih serius.
Selain soal pengetahuan, cara individu memaknai tekanan hidup juga berperan besar dalam memperberat stres. Tidak jarang, situasi yang sebenarnya dapat dikelola menjadi terasa menekan karena dipersepsikan secara keliru. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami hubungan antara pikiran, emosi, dan perilaku. Melalui latihan sederhana, mereka belajar menyadari pola pikir yang tidak realistis dan bagaimana cara menantangnya agar respons emosional menjadi lebih seimbang.
Kegiatan ini tidak berhenti pada penjelasan konsep. Peserta juga diajak mempraktikkan berbagai teknik pengelolaan stres, seperti relaksasi pernapasan, mindfulness, dan latihan self-compassion. Pendekatan ini memberi pengalaman langsung, bukan sekadar pengetahuan teoretis. Sesi diskusi dan berbagi pengalaman turut membuka ruang dukungan sosial, yang kerap terlupakan padahal berperan penting dalam menjaga kesehatan mental.
Respons peserta menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas memiliki dampak yang nyata. Psikoedukasi yang dilakukan di lingkungan tempat tinggal menciptakan suasana yang lebih akrab dan aman, sehingga peserta lebih terbuka membicarakan pengalaman personal. Dari proses ini, tumbuh kesadaran bahwa stres bukanlah kelemahan individu, melainkan respons manusiawi yang dapat dikelola bersama.
Pengalaman di Tanjung Duren memberi pelajaran bahwa upaya menjaga kesehatan mental tidak harus selalu berskala besar atau formal. Psikoedukasi dapat dimulai dari ruang-ruang kecil, seperti kos, lingkungan RT, atau komunitas lokal lainnya. Dengan dukungan institusi pendidikan dan kebijakan publik yang berpihak, pendekatan semacam ini berpotensi menjadi bagian dari strategi pencegahan masalah kesehatan mental di masyarakat.
Pada akhirnya, psikoedukasi bukan hanya soal mengurangi stres, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif. Ketika masyarakat diberi ruang untuk belajar, berbagi, dan berlatih bersama, daya lenting psikologis dapat tumbuh secara perlahan namun berkelanjutan. Dari lingkungan terdekat, masyarakat dapat belajar menghadapi tekanan hidup dengan cara yang lebih sehat dan manusiawi.
Tim Penulis:
Arthur Geoff Pascal, Bryan Lucas, dan Alrend Charis adalah mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), Jakarta, yang memiliki minat pada isu kesehatan mental masyarakat dan pengembangan intervensi psikologis berbasis komunitas.
