Anjing Pelacak dan Senyum Anak-anak Batang Toru

Bagikan Artikel

Batang Toru, Bonarinews.com — Di pos pengungsian Desa Sumuran, Kecamatan Batang Toru, Senin pagi, suara tawa anak-anak terdengar lebih sering daripada biasanya. Bukan karena banjir telah benar-benar pergi, melainkan karena kehadiran tamu tak lazim: anjing pelacak milik Unit Polsatwa K-9 Polda Sumatera Utara.

Sejak pagi, personel Polsatwa K-9 Direktorat Samapta Polda Sumut mendampingi tim BKO SAR Polri melakukan kegiatan pemulihan psikologis bagi anak-anak korban banjir. Mereka datang ke posko pengungsian yang berada di kawasan PT Agincourt Resources Martabe Gold Mine, membawa pendekatan berbeda: bermain, berinteraksi, dan mengenalkan satwa K-9 sebagai teman, bukan alat tugas semata.

Anak-anak yang sebelumnya tampak murung mulai mendekat. Sebagian berani menyentuh, sebagian lagi hanya tertawa melihat tingkah anjing pelacak yang dilatih untuk pencarian dan penyelamatan. Perlahan, kecemasan yang tertinggal sejak banjir datang berubah menjadi rasa ingin tahu dan kegembiraan.

Trauma healing melalui interaksi dengan satwa bukan hal baru, tetapi kehadiran anjing SAR di tengah pengungsian memberi pengalaman yang tidak biasa. Selain permainan edukatif, anak-anak diajak mengenal peran satwa K-9 dalam membantu manusia saat bencana. Pendekatan ini membuat proses pemulihan berjalan tanpa tekanan.

Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara, Kombes Ferry Walintukan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab Polri pascabencana. “Pemulihan tidak hanya soal logistik dan keamanan. Anak-anak membutuhkan rasa aman agar tidak membawa trauma itu terlalu lama,” ujarnya.

Menurut Ferry, keterlibatan Polsatwa K-9 justru menjadi jembatan emosional. Interaksi langsung dengan satwa membantu anak-anak membangun kembali rasa percaya diri dan aman di lingkungan yang sempat berubah drastis akibat banjir.

Kegiatan berlangsung hingga menjelang siang dalam suasana tertib. Di akhir acara, beberapa anak masih enggan berpisah dengan anjing pelacak yang sejak pagi menemani mereka bermain.

Bagi anak-anak Batang Toru, hari itu mungkin belum menghapus ingatan tentang banjir. Namun setidaknya, mereka pulang dengan senyum—dan pengalaman bahwa di tengah bencana, masih ada ruang untuk rasa aman dan keceriaan. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *