Di sebuah ruko kecil di kawasan MMTC Pancing, Medan, terdapat sebuah meja kayu beralas kaca yang menjadi saksi bisu aneka jatuh-bangun mahasiswa. Meja itu milik Roma Nababan, pemilik CV Amor—toko yang menjadi persinggahan terakhir bagi mahasiswa yang putus asa dengan skripsi dan penelitian. Sudah hampir sepuluh tahun ia menjadi semacam “orang ketiga” dalam konflik abadi antara mahasiswa dan laboratorium kampus.
Tidak ada papan nama mewah, tidak ada mesin canggih yang memantulkan cahaya stainless steel. Hanya rak-rak berisi botol kimia dan alat lab. Namun, justru di tempat sederhana itu mahasiswa merasa lebih didengar ketimbang di ruang akademik yang sering kali dingin, baik udaranya maupun sikap penghuninya.
Suatu siang, seorang mahasiswi datang dengan langkah ragu. Namanya Wila, mahasiswa salah satu kampus di Medan. Ia anak rantau dari Toraja—tanah pegunungan yang jauh dari hiruk-pikuk Medan. Wila bukan tipe mahasiswa yang cerewet. Dari tatapannya saja Roma tahu, anak ini memikul beban lebih besar dari tubuhnya yang kecil. Tekanan dari penelitian yang gagal, dari kelompok yang mencampakkannya, dari uang yang digelontorkan tanpa hasil, dari rasa bersalah pada orang tua yang membiayai pendidikan dari tanah jauh.
Ketika laboratorium kampus tak sanggup memberi jawaban, Wila mencari pelarian. Ia membayar jasa laboratorium dengan tarif yang bahkan membuat napas mahasiswa semester akhir tercekat. Namun hasilnya tetap nihil. Di tengah frustrasi, nama Roma Nababan muncul dari bisik-bisik teman satu jurusan: “Kalau sudah mentok, pergi saja ke Amor. Dia mau membantu.”
Roma menyambut Wila seperti menyambut kasus-kasus lain sebelum ini. Tanpa banyak seremonial. “Kita kerjakan pelan-pelan ya. Kau tidak sendirian,” katanya lembut. Kalimat sederhana, tapi di dunia akademik yang kerap memuja kecepatan dan melupakan manusia, itu terdengar seperti oase.
Sebulan penuh mereka berdiskusi. Lewat WhatsApp, lewat kunjungan langsung, lewat tumpukan kertas hasil eksperimen yang lebih sering gagal ketimbang berhasil. Roma, dengan pengalaman satu dekade menjadi tempat “curhat ilmiah,” tahu betul bahwa penelitian bukan hanya soal rumus dan sampel. Ada psikologi di dalamnya: tekanan, kecemasan, rasa takut mengecewakan.
Hingga suatu hari, hasil yang dicari akhirnya datang. Wila tersenyum—senyum yang jarang muncul pada mahasiswa tingkat akhir kecuali saat sidang disetujui. Dan dari mulutnya meluncur kalimat yang jarang terdengar di ruangan mana pun: “Bersyukur aku mengerjakan sendiri, Kak. Jadi aku tidak menghianati orang tuaku… apalagi Tuhan.”
Kalimat itu lebih berat daripada sampel laboratorium mana pun.
Namun drama terbesar justru terjadi setelah itu. Wila mengeluarkan sebuah amplop. Tebal. Sangat tebal. Ia menyodorkannya dengan tangan gemetar. “Ini, Kak, sebagai terima kasih.”
Roma Nababan, yang hidupnya tidak bergelimang kemewahan, menatap amplop itu seperti menatap godaan yang selalu hadir di setiap hubungan manusia: uang sebagai ganti kebaikan.
Ia menolak. Spontan. “Simpan untuk bayar kosmu,” katanya. Wila menangis—bukan karena tersinggung, tapi karena ketulusannya tidak berbalas sebagaimana ia kira seharusnya.
“Bilang sama mama, cukup doakan kakak sehat,” lanjut Roma. “Doakan Amor bisa jadi berkat.”
Kita hidup di zaman ketika ucapan terima kasih sering kali dikonversi menjadi angka. Di banyak tempat, amplop adalah bahasa universal untuk menutup cerita: terima kasih, maaf, atau sekadar supaya urusan cepat selesai. Karena itu, penolakan Roma terasa janggal bagi Wila—dan mungkin juga bagi kita.
Ia bertanya, polos, “Kenapa kakak pintar?”
Roma tertawa. “Bukan pintar. Sudah sering saja mengurus penelitian mahasiswa selama sepuluh tahun. Ala bisa karena biasa.”
Cerita Roma dan Wila mengingatkan kita bahwa di sela-sela sistem pendidikan yang sering macet, masih ada orang-orang yang bekerja dengan hati. Tak punya gedung megah, tak punya SK, tak punya jabatan. Hanya punya niat: agar anak-anak muda itu tidak menyerah pada ilmu pengetahuan.
Di akhir pertemuan, Wila berkata pelan, “Kalau kakak ke Toraja, bilang ya. Biar ketemu mama papa.”
Roma menulis kisah ini di Facebooknya, dengan nada bercanda namun sarat makna, menyebutnya sebagai “curhat di dinding ratapan.” Ia sadar, beberapa orang mungkin menuduhnya pamer. Tapi siapa peduli? Bahkan kebaikan pun kini bisa dicurigai.
Yang tertinggal hanyalah ironi: di negeri yang mengaku menjunjung pendidikan, justru sebuah toko kecil bernama Amor menjadi tempat mahasiswa menemukan kembali harapan—bukan laboratorium megah, bukan ruang akademik berlapis gelar.
Dan di meja kayu sederhana itu, satu amplop tebal tak pernah dibuka.
