Aktivis Mahasiswa Minta Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis: Jangan Timbulkan Ketimpangan Sosial

Bagikan Artikel

Medan, BonariNews.com – Dua aktivis mahasiswa, Dicky Wahyudi Cibro dan Yosef Aprian Simanjuntak, menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan lebih dari setahun di Indonesia. Menurut mereka, pemerintah terlalu terburu-buru melaksanakan program ini tanpa persiapan matang, sehingga berpotensi menimbulkan ketimpangan sosial baru.

“Meskipun MBG bertujuan mengurangi kesenjangan sosial, implementasinya sekarang justru memperkaya pihak yang sudah mapan. Sistem ini memungkinkan siapa pun yang punya modal mendirikan dapur MBG. Tak heran jika pengusaha dan elit berebut proyek ini,” ujar keduanya dalam pernyataan kepada media. Mereka juga menyinggung adanya isu nepotisme di beberapa dapur MBG, yang semakin memperkuat ketimpangan.

Dicky dan Yosef menekankan ironinya, saat sebagian pihak asyik memperebutkan keuntungan proyek MBG, kasus tragis terjadi di Nusa Tenggara Timur. Seorang anak SD nekat mengakhiri hidup demi membantu ibunya dan keluarganya, sekaligus menjaga keberlangsungan pendidikan adik-adiknya. Bagi mereka, kejadian ini menjadi tamparan keras terhadap pemerintah yang dianggap belum mampu menangani kesenjangan sosial secara efektif.

“Kita bisa bayangkan, satu porsi MBG dengan anggaran Rp15.000 bisa digunakan untuk membeli minimal tiga buku tulis. Jika pemerintah belum siap, sebaiknya program ini dihentikan sementara,” tambah mereka.

Kritik ini muncul di tengah perdebatan publik tentang manfaat dan risiko MBG, yang selama ini menuai komentar positif maupun negatif. Dicky dan Yosef menyerukan evaluasi menyeluruh, agar program pemerintah benar-benar menjadi solusi bagi masyarakat miskin, bukan ajang memperkaya kelompok tertentu. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *