Oleh: Faidin*)
Di balik setiap prestasi gemilang, selalu ada kisah sunyi tentang perjuangan. Hari ini, kisah itu datang dari Nangahale, sebuah kampung kecil di Kabupaten Sikka. Di sana, seorang siswa bernama Ilman Fariski mengukir nama daerahnya di ajang nasional. Ia meraih medali perunggu Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2025 di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terintegrasi, mewakili MTs Muhammadiyah Al Fatah Nangahale. Tapi ada cerita yang jauh lebih besar dari sekadar medali—kisah tentang cinta orang tua yang bertahan meski dalam keterbatasan.
Rumah Sederhana, Cinta yang Tak Terukur
Rumah Ilman kecil dan rapuh. Kusen jendelanya lapuk, lampu 5 watt sering berkedip karena listrik tak stabil. Meja belajarnya sudah miring, seringkali kalah menahan tumpukan buku. Tapi di ruang itu, semangat belajar tumbuh dari hal-hal yang hampir tak terlihat.
Ilman belajar setiap malam, terkadang hanya ditemani cahaya senter atau layar ponsel ibunya yang retak. Ibunya, Marwaning, jarang bicara saat menemani, karena ia tahu dirinya tak sekolah tinggi. Tapi ia menemani, setia dalam diam.
“Ibu tidak bisa ajarkan pelajaran, Nak. Tapi ibu bisa temani kamu,” ucapnya suatu malam, dengan mata yang basah.
Ayahnya, Ilyasa, bekerja apa saja untuk menyambung hidup. Dari mengangkat barang, membantu nelayan, hingga mengupas kelapa. Ia tahu kerja kerasnya tak menjamin kemewahan, tapi ia yakin itu bisa jadi pijakan harapan.
“Kalau nanti kamu berhasil, capek ayah hilang semua,” katanya lirih.
Saat Tekad Mengalahkan Kekurangan
Ketika Ilman terpilih mengikuti seleksi di tingkat kabupaten, masalah klasik muncul: biaya. Meski sekolah menanggung banyak hal, tak terhitung pengorbanan kecil yang tetap harus dilakukan keluarga. Pernah, ketika uang belanja tinggal beberapa ribu rupiah, Marwaning rela makan nasi dan garam agar Ilman tetap punya bekal.
“Biar ibu saja yang kurang… kamu jangan,” ucapnya pada Ilman, sambil tersenyum padahal ia menahan lapar.
Tembus Nasional: Haru, Takut, dan Harapan
Ketika namanya diumumkan lolos ke tingkat nasional, rumah kecil itu sunyi. Bukan karena tak bahagia, tapi karena mereka menyadari beban baru yang datang: fasilitas, biaya perjalanan, dan ketakutan tak sampai tujuan. Namun, di tengah keterbatasan itulah kemudian muncul tangan-tangan tulus—para guru, terutama Ibu Dahlia, A.Md., S.Pd., Gr.
“Ia tak pernah mengeluh. Belajar dengan diam, bekerja keras tanpa menuntut,” ujar Dahlia, pembimbing Ilman, yang mengumpulkan donasi, mencetak latihan soal, dan melatihnya hingga larut malam. Ia menambahkan, “Prestasi Ilman bukan hanya miliknya, tapi milik seluruh orang yang percaya bahwa impian anak kampung bisa menjadi kenyataan.”
Saat Berangkat: Doa yang Menjelma Air Mata
Hari keberangkatan adalah puncak emosi. Marwaning memeluk anaknya erat, begitu lama seolah tak ingin melepas.
“Nak, ibu tidak kasih apa-apa. Tapi doa ibu ikut,” ucapnya singkat, bergetar.
Ilyasa hanya menepuk bahu Ilman. Suaranya tercekat, tapi matanya berkata semuanya.
“Jangan takut… ayah di sini.”
Di Banten, Ilman melihat teman-teman dari sekolah besar dengan fasilitas lengkap. Ia hanya punya buku fotokopi dan semangat yang ia bawa dari rumah. Tapi ia tidak gentar. Karena ia tahu, perjuangannya bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk dua orang yang setiap malam memohonkan yang terbaik untuknya.
Ketika Kabar Itu Sampai di Kampung
Saat kabar medali perunggu itu datang, rumah Ilman kembali sunyi. Lalu pelan-pelan, isak haru pecah. Bu Dahlia menelepon:
“Bu… Pak… Ilman dapat perunggu. Nasional. Anak kita berhasil.”
Marwaning tak bisa berkata-kata. Ia hanya menangis. Ilyasa menutup wajah dengan tangan, bahunya bergetar. Medali itu seperti menjawab semua doa di pagi buta, semua lapar yang ditahan, semua takut yang dipendam.
Medali Itu Bukan Sekadar Perunggu
Bagi keluarga ini, medali itu bukan tentang posisi ketiga. Itu adalah simbol bahwa kemiskinan tidak akan pernah bisa memutus mimpi. Itu bukti bahwa meski hidup serba kurang, cinta orang tua tak pernah habis, dan ilmu bisa tumbuh dalam gelap sekalipun.
Kini, medali itu tergantung sederhana di dinding rumah Ilman. Tidak ada lemari kaca, hanya paku dan dinding yang terkelupas. Tapi di sana, tertempel juga harapan—bahwa anak kampung, anak madrasah kecil, bisa membuktikan bahwa mereka juga pantas diapresiasi.
Dan Ilman? Ia kembali ke meja kayunya, kembali belajar. Karena ia tahu, perjuangan belum selesai.
Dan di kampung kecil itu, cinta, doa, dan keyakinan terus menjadi cahaya yang tak pernah padam, menyinari langkah anak yang bercita-cita besar.
*) Faidin adalah alumnus MTs Muhammadiyah Al Fatah Nangahale
